• LAINYA

TAFSIR-POLITIK–Membicarakan kemerdekaan sama sepenuhnya membicarakan manusia itu sendiri. Manusia tanpa kemerdekaan bukan manusia; ia bisa sama dengan binatang atau lebih rendah lagi. Sebaliknya, tidak tahu diri sendiri sama artinya tidak tahu kemerdekaan dirinya. Dan hidup tanpa kemerdekaan sama nilainya dengan benda mati. Orang bisa bernapas lega dan hidup senang namun, pada saat yang sama, dia mati pikiran, mati kehendak dan mati menentukan masa depan. Tidak merdeka sama artinya mati dalam cara yang paling tragis.

Alquran adalah hukum kehidupan. Ia menjanjikan kehidupan bagi semua; rahmat dan anugerah bukan hanya bagi segenap alam, tetapi juga bagi semua unsur dalam satu makhluk. Tidak ada bagian dari diri manusia yang disia-siakan Alquran. Kitab ini menghidupkan dan mengaktifkan semua elemen dan dimensi diri manusia. Ia menghidupkan jiwa, pikiran, imanjinasi, indra, hasrat kehendak, nafsu keinginan serta cita-cita tinggi manusia.

Semua nilai-nilai kehidupan ini sesungguhnya fitrah bawaan yang sudah disadari semua orang. Yakni, tanpa keterangan firman Allah, setiap orang sudah tahu dan menginginkan kemerdekaan dari mulai berpikir, menyatakan pemikiran, mengaktifkan kehendak dan mencapai cita-citanya. Alquran hanya pengingatan (al-dzikra) yang membangkitkan dan menguatkan kesadaran manusia. Berikut ini ayat-ayat kemerdekaan, dimulai dari ayat di bawah ini:

لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Kamu tidak menindas juga kamu ditindas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 279)

Falsafah didatangkannya Islam dan Alquran ialah membina generasi manusia agar menegakkan keadilan untuk memakmurkan dunia sebagai cara investasi terbaik di kehidupan setelah kematian. Konsekuensi penegakan keadilan ialah melawan segala bentuk penindasan dan perampasan hak. Dan penindasan paling kasar kejam ialah penjajahan dan peniadaan kemerdekaan suatu bangsa; bangsa sendiri ataupun bangsa lain.

Dalam ayat di atas, Alquran bukan hanya mengecam perampasan hak kemerdekaan orang lain, tetapi juga melarang pembiaran diri berada puas dirampas kemerdekaannya oleh orang lain. Merasa puas terjajah atau masabodoh dijajah atau tidak sadar sedang dijajah apalagi merasa bangga dijajah adalah tidak kurang jahatnya dengan penjajah itu sendiri. Orang-orang yang terjajah seperti itu sama artinya dengan penjajah, yakni menjajah diri sendiri dan bangsanya hingga pasrah dan puas sebagai budak, jiwanya tidak merasa terkoyak disebut sebagai bangsa budak.

Baca Juga :  Unduh “Hukum-hukum Perang dalam Islam dan Aspek-aspek Kemanusiaannya”, Karya Praktis Wahbah Al-Zuhaili

Ayat di atas memetakan penindasan dan musuh kemerdekaan pada dua faktor: eksternal (tidak menindas) dan internal (tidak ditindas). Kemerdekaan dicapai dan dipertahankan dengan melawan dua faktor ini sekaligus. Yakni, dengan dua cara perlawanan terhadap jiwa penjajah dan jiwa terjajah itu, Alquran mendorong kuat pembangunan kemerdekaan setiap orang dan bangsa.

Penjajahan tidak akan berhasil direncanakan dan dilakukan oleh kekuatan sebesar apa pun jika negeri dan bangsa sasaran tidak siap dijajah, tidak sudi dijarah, menolak tegas eksploitasi, dan radikal dalam mempertahankan independensi serta kemandirian bangsa. Sebaliknya, penjajah hanya dan hanya berhasil, bahkan dengan kekuatan kecil, atas suatu bangsa sebesar apa pun kekuatannya jika dan hanya jika bangsa itu siap dijajah; kesiapan yang ditandai dengan masabodoh, tidak mengerti, terkesima dengan prestasi bangsa lain hingga merasa inferior atau bangga dijajah.

Maka, penjajah utama adalah diri sendiri, “Musuh paling memusuhimu ialah jiwamu yang ada dalam dirimu.” Karena itu, perjuangan yang paling berat ialah memerdekakan diri dan bangsa sendiri dari mementingkan kelompok dan memecah belah kesatuan dan kepentingan bangsa. Di sinilah medan Jihad Akbar. Sabda Nabi, “Lawanlah nafsumu seperti kamu melawan musuhmu.”

Diri terjajah dan bangsa terjajah tidak punya kemuliaan dan kewibawaan, sama sekali. Sudi dijajah secara sadar atau tidak berarti juga membiarkan diri menyandang semua kehinaan, cemoohan dan penistaan: bangsa budak, bangsa pengecut, bangsa rendahan, bangsa pecundang, bangsa melata, bangsa cengeng, bangsa minder, bangsa loyo, bangsa terbelakang, bangsa bisa dibeli, bangsa ikut-ikutan.

GIGIH MENJAGA KEMERDEKAAN DENGAN CARA-CARA KRITIK ATAU PEMBELAAN YANG CENDERUNG MERUSAK PERSATUAN DAN MEMPERTAJAM KETERBELAHAN BANGSA ADALAH PENINDASAN ATAS DIRI SENDIRI DAN PENGANIAYAAN ATAS BANGSA SENDIRI.

Apa pun cara menghinakan diri sendiri itu dilarang keras dan dihitung sebagai dosa besar oleh Alquran. Dalam falsafahnya, setiap manusia diciptakan dengan kemuliaan Ilahi (QS. Al-Isra’ [17]: 70) dan, karena itu, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling ideal (QS. Al-Tin [95]: 4). Maka, menghinakan bangsa sendiri berarti menghinakan Allah, dan mempertahankan kemerdekaan bangsa yaitu menjaga kemuliaan Allah.

Baca Juga :  Filsafat Manusia dalam Alquran (4): Kesatuan Manusia (1): Aspek Kesamaan

Tanpa penjajahan penjajah dan kedijajahan terjajah, Alquran menempatkan setiap orang dan bangsa di atas posisi sejajar, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Inilah posisi asal dan natural manusia. Meniadakan penjajahan dan keterjajahan sesungguhnya dalam rangka falsafah dasar keberadaan Islam dan Alquran, yaitu menegakkan keadilan.

Dengan posisi sejajar dan berkeadilan ini, perdamaian konstruktif dan kerja sama saling membangun menjadi rasional, yakni “Saling membantulah dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah saling membantu dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah [5]: 2). Kesepakatan dan kesepahaman untuk saling membantu dan saling mengisi pembangunan dapat berpotensi menjadi tidak adil dan merusak nilai kemerdekaan jika terdapat klausal komitmen sepihak atau berat sebelah. “Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan keadilan” (QS. Al-Baqarah [2]: 182).

Karena itu, ayat kerja sama ini ditutup pesan takwa, seperti juga ayat di atas diawali dengan pesan takwa, “Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah ….” Artinya, seperti juga di ayat lain (QS. Al-Hujurat [49]: 13), tidak ada yang unggul di atas yang lain kecuali takwa kepada Allah, yakni menolak (al-daf’u) kekuatan penjajah dari diri sendiri, mengendalikan diri dari nafsu menjajah dan dari jiwa terjajah dan putus asa dalam bidang dan sektor apa pun. Bertakwa kepada Allah yaitu menjaga (al-hifzh) diri sebagai ciptaan terbaik dan manifestasi paling sempurna dari kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, yaitu dengan menyukuri kemerdekaan, tidak menyia-nyiakan juga tidak menyalahgunakan.

Takwa dan takut bukan hanya membangkitkan kepedulian bagaimana melindungi kepentingan diri dan hak bangsa sendiri, tetapi juga peduli, setidaknya, dalam bekerja sama dan mengisi kemerdekaan jangan sampai melanggar hak bangsa lain, apalagi merusak keutuhan dan cita-cita bangsa sendiri. Bermaksud menjaga kemerdekaan dengan cara-cara kritik ataupun pembelaan yang cenderung merusak persatuan, menanamkan kebencian dan mempertajam keterbelahan bangsa adalah penindasan atas diri sendiri, penganiayaan atas bangsa sendiri.

Share Page

Close