FILSAFAT POLITIK–Peluang utama kesebangunan fitrah dengan kearifan adalah ciri utamanya sebagai kodrat ilahi yang permanen. “Fitrah dan kehanifan ini adalah design ciptaan Allah yang tidak akan berubah, sehingga tetap akan ada selama-lamanya dalam diri manusia, yang malah akan menjadi sumber potensi kearifan abadi (al-hikmah al-khālidah atau sophia perennis), inti dari nilai kemanusiaan universal.” [1]
Sebelum mengenal lebih jauh kearifan abadi, perlu didudukkan relatif jernih apa kearifan itu sendiri dan, tentu saja, kearifam batin serta relasinya dengan kearifan abadi.
Kearifan
Kearifan berasal dari arif, yakni pengenal yang lebih dari sekedar tahu. Ia seakar kata dan makna dengan ma’rifat dan irfan, yaitu pengenalan yang benar, dalam, batin, ilahi dan saksian sebagai tingkatan tertinggi pengetahuan.[2] Maka, adjektif ‘batin’ sesungguhnya tautologis, sudah ada dalam kearifan sendiri.
Di atas tadi, baru saja kearifan dipadankan dengan hikmah sebagai salah satu kata kunci yang paling banyak diacu Nurcholish. Saking banyaknya,[3] perlu kehati-hatian dalam mendudukkan setiap maknanya, yaitu dengan penjenjangan sehingga menampakkan keseutuhan dan kepaduan. Atas dasar ini, kearifan dan hikmah (kebijakan/kebijaksanaan) dapat diuraikan ke banyak pembagian: kearifan esoterik dan eksoterik,[4] kearifan primer dan sekunder,[5] kearifan universal dan partikular-teknis,[6] metafisis dan horizontal.[7]
Dari semua macam kearifan, pembagiannya kepada keilahian dan kemanusiaan tampaknya lebih penting. Secara hirearkis, dua kearifan dan hikmah ini dapat disebut sebagai tertinggi dan tinggi. Kearifan tertinggi adalah kearifan ilahi kemanusiaan, dan kearifan tinggi adalah kearifan kemanusiaan ilahi. Keduanya sama-sama al-hikmah al-khalidah. Kearifan tinggi insani-ilahi adalah kearifan batin yang mencakup savoir-faire, bashirah, hanifiyyah dan fitrah. Karena itu, dalam kutipan pembuka tulisan ini, Nurcholish menggarisbawahi kesadaran ini sebagai kesadaran tinggi, bukan tertinggi.
Di banyak karyanya, Nurcholish kerap dan konsisten menyebut kearifan tinggi ini sebagai kearifan atau hikmah kemanusiaan universal dengan dua sayapnya: negatif, yaitu penentangan atas taghut (kekuasaan tiranik), ketidakadilan, perbudakan dan penjajahan, dan positif, yaitu kemerdekaan, kebebasan, keamanan, kejujuran, kesejahteraan.
Di tingkatan kesadaran tertinggi, seorang pemimpin mencapai Sidratul Muntaha,[8] maqam pencapaian ma’rifat dan irfan yang sebanding dengan penuntasan perjalanan kedua dari al-asfar al-arba’ah. Terutama para arif-sufi Ibnu Arabian dan para faylasuf Sadrian menegaskan kearifan tertinggi manusia memuncak di perjalanan keempat, dari Tuhan ke makhluk dalam makhluk, dan ia berperan sebagai khalifah Tuhan di bumi.
Kiranya Nurcholish akan sepakat dengan sindiran Muhammad Iqbal tentang seorang sufi dari Ganggoh, Abdul Quddus, yang tidak akan meniru jejak Nabi Muhammad, yaitu kembali ke dunia setelah mikraj dan mencapai Sidratul Muntaha.[9] Desakan Iqbal bersama Platon, para sufi dan filsuf Sadrian agar kearifan tertinggi itu diterapkan dalam membangun keadilan sosial-politik dan peradaban tampaknya kurang dicermati oleh Nurcholish, meski ia sendiri mencatatkan isyarat literalnya saat mengutip kata-kata Pico dengan penuh antusias, “he is free to make himself in the image of God”.[10] Uniknya, ia justru menafsirkannya sebatas kearifan kemanusiaan universal dan kearifan tinggi.
Epilog
Studi atas kecerdasan politik dalam kearifan batin masih sangat terbuka untuk digali lebih luas lagi dari karya-karya Nurcholish Madjid. Aspek-aspek kekuatannya akan tampak lebih menonjol dalam rencana studi komparatif selanjutnya dengan pemikir dan faylasuf Islam dan dunia, terutama dengan philosopher-king Platon, rabb insani Ibnu Sina, insan kamil Ibnu Arabi, dan wilayat al-faqih Ruhullah Khomeini.[11]
Sepanjang tinjauan pengantar ini, tampak sekali konsep kearifan batin yang terbentuk dari bashirah dan fitrah serta kehanifan menampilkan kesan tasawuf mengingat semua istilah ini sangat lazim dalam karya-karya para sufi. Tetapi ini tidak berarti proporsional membaca gagasan Nurcholish dalam lensa tasawuf, kendati tentu saja ia sangat terbuka dengan berbagai pemikiran, mazhab, termasuk bathiniyah. Gagasannya, karena itu, relatif orisinal. Dan tidak berlebihan bila “kearifan batin” ditempatkan sebagai doxastic identity pemikiran nurcholishian dalam wacana epistemologi politik, seperti mellat-e bahdhā’ (bangsa putih)[12] pada filsafat politik Muhammad Iqbal yang dikaguminya.
Diksi bashirah dalam konteks politik juga menjadi autentisitas dan keunikan narasi Nurcholish. Jika dihitung penggunaannya pada 2003, maka inisiatifnya telah mendahului 7 tahun sebelum diwacanakan untuk pertama kalinya pada kisaran 2010 oleh pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ali Khamenei, dalam konteks yang sama secara intensif dan ekstensif dari atas ke bawah masyarakat di sana dengan makna yang tidak jauh beda, “bashirah yaitu tahu momentum, tahu kebutuhan, tahu prioritas, kenal musuh, kenal kawan, tahu cara yang setepatnya digunakan untuk melawan musuh. Pengetahuan ini adalah bashirah.”[13]
Yang tentu saja orisinal ialah upaya Nurcholish dalam penerapan kearifan batin pada isu politik sebagai bagian dari proposal penyelesaian masalah dan agenda politik berbangsa dan bernegara. Dampaknya, kearifan batin ini, secara tidak langsung, efektif dalam memperkaya sila keempat Pancasila, sila yang mencerminkan nilai-nilai kearifan batin: kemerdekaan dan kesetaraan, kepemimpinan, hikmah kebijaksanaan, dan permusyawatan, “Maka, terkenal sekali adagium Islam, ra’s al-hikmah al-masyūrah, yang artinya, “Pangkal kebijaksanaan adalah musyawarah”. Dalil inilah yang masuk menjadi bagian dari rumusan sila keempat Pancasila kita.”[14]
Diakui oleh Riggio dengan nada cenderung putus asa atau kecewa bahwa sejauh ini dan setelah penelitian lebih dari 40 tahun, belum ada “sekolah” untuk savoir-faire dan kecerdasan politik. Hanya secara singkat ia memberi isyarat meyakinkan bahwa hal itu dapat dikembangkan melalui motivasi dan kerja keras.[15] Penggalian dasar-dasar kecerdasan politik ini melalui kearifan batin, hanifiyyah dan fitrah dalam epistemologi politik Nurcholish Madjid kiranya membuka medan luas untuk turut mengisi kekosongan sekolah formal atau informal kepemimpinan dan membina movitasi sesuai nilai-nilai religius yang, pada tingkatan tertentu, universal, inklusif dan pluralis bagi kemanusiaan, apalagi dalam skala nasional.
Sebelum pada akhirnya, Nurcholish mengingatkan kembali bahwa setiap perencanaan kebudayaan yang hendak mengasaskan pada semangat substansi Islam, haruslah berangkat dari suatu pandangan falsafah perennial: kefitrahan yang hanīf, yang dalam konteks Islam klasik telah menghasilkan suatu pemahaman mengenai kemanusiaan universal, yang menjadi dasar bangunan peradaban Islam: partisipasi (egalitarianisme dan keterbukaan), transparansi dan akuntabilitas yang sekarang lebih dikenal dengan istilah civil society.[16]
Dan pada akhirnya, bila pesan kesadaran dan keteladanan ini diabaikan dalam kepemimpinan dan kedipimpinan nasional, maka seperti yang dimaktubkan Nurcholish di akhir karya lengkapnya, “alternatif dari semua itu ialah sikap tidak peduli kepada situasi bangsa yang tidak berhasil melaksanakan cita-citanya sendiri, atau bahkan mungkin melawan cita-cita itu. Suatu bangsa yang melawan prinsip-prinsipnya sendiri tidak akan bertahan! Sekarang atau tak bakal pernah lagi! Now or never! [AFH]
——————————-
*Referensi selengkapnya dapat dirujuk ke buku cetak dengan judul 40 Human Virtues: Pendar-pendar Hikmah Nurcholish Madjid
[1] Madjid, Nurcholish, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, hal. 4071.
[2] Madjid, Nurcholish, Bilik-bilik Pesantren, 3312; Al-Kasyani, Ishthilahat al-Shufiyyah, hlm. 106.
[3] Sedemikian luas dan kompleks kata dan makna hikmah, bijak, wisdom, serta penggunaannya dalam pemikiran dan karya-karya Nurcholish, tampaknya perlu studi terpisah secara khusus.
[4] Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, hal. 4889.
[5] Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, 4879, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, hal. 191; Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, hal. 4094
[6] Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, 4853, 4905.
[7] Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, hal. 4852; Cita-cita Politik Islam, hal. 3980.
[8] Madjid, Nurcholish, Pesan-Pesan Takwa, hal. 4398.
[9] Iqbal, Muhammad. Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam, hal. 153.
[10] Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, hal. 4857.
[11] Lih. Fauzi, Ammar, Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (1-6), https://quranika.com/catatan-kaki-untuk-pemimpin-ideal-dalam-filsafat-politik-platon-dan-khomeini/
[12] Fauzi, Ammar, Dekonstruksi Filsafat Peradaban Sir Muhammad Iqbal, Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin, vol. 5, no. 1, June 2019, pp. 83-99.
[13] http://farsi.khamenei.ir/speech-content?id=28344
[14] Madjid, Nurcholish, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, hal. 1954.
[15] https://www.psychologytoday.com/us/blog/cutting-edge-leadership/202009/why-savoir-faire-is-key-social-success
[16] Madjid, Nurcholish, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, hal. 4129; Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, hal. 4890.