• LAINYA

TAFSIR-ETIKA–Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa salat efektif melindungi seseorang dari berbuat keji dan munkar. Dalam lanjutannya, ditegaskan bahwa dzikir atau ingat Allah itu lebih agung. Maka, ada yang lebih agung dari salat, yaitu dzikru-Allah, mengingat Allah.

Pertanyaannya: bagaimana mengingat Allah bisa lebih tinggi dari salat? Apa maksud dari ingat Allah yang bisa lebih besar dari salat? Apakah mengingat Allah berarti juga menyebut lafadz Allah atau nama-nama terbaik-Nya?

Secara umum dan mula-mula, maksud arti dari bagian ayat di atas, yaitu “dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar”seolah-olah menyatakan bahwa mengingat Allah lebih tinggi dan lebih utama daripada salat.

Bertolak dari pemahaman ini, sebagian kalangan Muslim, bahkan sebagian orang yang berperan sufi, lantas merasa salatnya sudah cukup sekedar mengingat Allah; mengingat Allah merupakan pengganti terbaik dari bersalat. Dia meninggalkan kewajiban salat dengan alasan: sudah berdzikir/ingat Allah dan memusatkan pikiran serta hati kepada-Nya.

Sebagian orang meninggalkan salat dan, sebagai gantinya, berdzikir kepada Allah dengan, misalnya, menyebut-nyebut lafadz Allah atau nama-nama lain-Nya, di ruang tertentu atau di waktu-waktu tertentu, dengan alat-alat bantu seperti tangan atau tasbih, dengan pergerakan anggota badan seperti: mengerak-gerakkan kepala, menghentak-hentakkan kaki ataupun menari-nari berjamaah.

Ada juga, masih dari dari kalangan Muslim, yang justru menentang bahkan membid’ahkan dzikir dengan cara-cara seperti itu. Dzikir, bagi mereka, ialah salat dan teks-teks bacaan yang hanya berasal asli dari Nabi SAW.

Kembali ke ayat di atas. Dalam terjemahan online Alquran versi Kemenag berkenaan dengan salat, ayat itu diterjemahkan begini: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dalam terjemahan ini, kata Arab “dzikr-Allah” diartikan dan ditafsirkan oleh Kemenag dalam tanda kurung dengan salat.

Ayat itu justru hendak menyatakan bahwa salat memiliki dua dampak positif: pertama, melindungi pesalat dari berbuat keji dan buruk; kedua, penggugah dan pengingat pikiran serta hati agar tetap hidup bersama Allah.

Secara umum, salat itu sendiri merupakan satu bentuk dzikir (ingat) kepada Allah. Dan dampak atau manfaat kedua dari salat ini adalah lebih besar dari dampak pertama, karena daya imunitas kekejian dan keburukan pada diri pesalat merupakan satu dari sekian dampak positif dzikir/ingat kepada Allah, sehingga dzikir kepada Allah itu sendiri, tentu saja, lebih umum dari salat.

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (3): Ulama sama dengan Nabi

Sekali lagi, lantas apa maksud dari ingat kepada Allah itu sendiri? Ingat Allah yaitu suatu bentuk hubungan dan keterikatan dengan Allah sehingga kesadaran, fokus dan konsentrasi pada Allah mengalir dalam pikiran serta hati hingga memenuhi jiwa dan ruh.

Secara umum, segala keadaan dan perbuatan yang membangkitkan ingatan seseorang kepada Allah dan menjadi bagian dari kesadaran hatinya adalah zikru-Allah (ingat Allah).

Salat, misalnya, sudah tentu salah satu bentuk dzikir kepada Allah, karena membangkitkan ingatan serta kesadaran kepada Allah dalam jiwanya: pikiran dan hatinya.

Contoh lainnya, baca Alquran adalah bentuk lain daro dzikir kepada Allah dan jenis dzikir Allah. Bisa juga dua contoh dzikir ini bergabung utuh dalam satu perbuatan, dimana salat terdiri dari serangkaian perbuatan seperti: berdiri, rukuk, sujud, dan membaca surat dari Alquran.

Demikian pula keadaan berpikir dan perbuatan memikirkan apa saja yang, secara langsung atau tidak, tertuju dan terkait dengan Allah seperti: berpikir tentang penciptaan makhluk dan pengurusannya, memperhatikan rahasia-rahasia keajaiban penciptaan, sifat dan perilaku makhluk-makhluk yang menyingkapkan pengetahuan dan kekuasaan Tuhan, sudah pasti merupakan bentuk dari dzikir kepada Allah.

Di antara karunia Tuhan kepada manusia adalah pengutusan nabi untuk memberi petunjuk dan jalan hidup kesempurnaan. Maka, berpikir dan mempelajari perilaku mulia, keutamaan ilmu dan kepribadian para nabi dan manusia-manusia suci seperti mereka adalah bagian dari dzikir kepada Allah.

Dzikir dan ingat Allah memiliki banyak jenis, derajat dan tingkatan. Ada dzikir lisan, dzikir hati, ada pula dzikir perbuatan kepada Allah. Beribadah, taat pada perintah dan larangan Allah untuk meraih keridhaan-Nya adalah dzikir kepada-Nya. Seluruh hidup kitab isa berupa dzikir.

Karena berderajat dan bertingkat-tingkat, ada dzikir yang lebih unggul dan lebih besar di atas jenis dzikir lainnya, seperti salat wajib, haji pertama, zakat, puasa, bakti kepada orang tua, misalnya, meringankan beban hidup orang yang kesusahan, menghibur orang yang terkena musibah, berjihad di jalan Allah dan menciptakan keamanan dan kedamaian bagi keluarga, lingkungan, hingga bangsa dan negara.

Baca Juga :  Filsafat Islam: Meninjau Peluang dan Tantangan Kontribusinya dalam Problematika Kemanusiaan

Dzikir/ingat Allah begitu penting dan istimewa disebutkan dalam Alquran sebagai sarana dan pengantar mencapai tujuan hidup: keberuntungan dan kebahagiaan hakiki:

“Dan ingatlah Allah dengan banyak agar kalian beruntung” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10).

Tidak hanya sampai di situ. Alquran juga mendudukkan pentingnya dzikir kepada Allah dengan cara sebaliknya, yaitu berpaling dari Allah mulai dari lalai, lupa, lengah, hingga masabodoh dan ingkar (kafir) terhadap Allah adalah faktor kesengsaraan, kesulitan, penderitaan, dan perusak kenyamanan hidup di dunia serta, di akhirat kelak, penyebab kebutaan dan masuk neraka:

“Dan barangsiapa berpaling dari ingat kepada Aku, maka baginyalah kehidupan yang menyesakkan dan Kami kumpulkan dia dalam keadaan buta di Hari Kiamat” (QS. Taha [20]: 124).

Orang yang tidak ingat Allah adalah manusia yang kehilangan kesempatan mengisi seluruh aktivitas hidupnya dengan ibadah, yakni dengan motif dan kesadaran meraih keridhaan Allah.

Tatkala, buku hidupnya dibukakan di hari perhitungan Allah Yang Mahaadil, dia tidak melihat catatan baik (ibadah) dari usahanya selama hidup di dunia.

Di hari itu, dia tidak melihat cahaya harapan dari buku catatan hidupnya. Matanya semakin terasa buta dan gelap gulita saat melihat buku hidupnya hanya catatan hitam.

Selama berada di dunia, orang yang tidak ingat Allah sebagai Tuhan yang Mahakasih: Pencipta, Pengurus dan Pemberi segala sesuatu, sangat mungkin merasa hidup nyaman dan senang. Tetapi kenyamana dan kesenangan itu semua, bukan hakiki, bukan yang sesungguhnya. Perasaan itulah yang membuatnya mengecoh diri sendiri seolah-olah dia sudah bahagia dan disayang Tuhan.

Di QS. Al-Zukhruf [49]: 37, orang yang lupa dan berpaling dari Allah adalah orang yang tahu tahu diri; dalam keadaan sesat, mereka mengira bahwa dirinya telah mendapat petunjuk. Dan secara lebih detail lagi, Allah mengambarkan orang seperti itu demikian dalam ayat berikut:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ 

“Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa” (QS. Al-An’am [6]: 44).

Baca Juga :  Tadabur: QS. Al-Fatihah [1]: ayat 2 (Bagian Pertama)

Pada dasarnya, ruh manusia berseutuhan dan harmonis dengan dzikir/ingat Allah. Jika hubungan dengan Tuhan ini terjalin terus menerus, ruh akan berada pada jalur pertumbuhan alami dan kesempurnaan hakiki. Maka, ada tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi dari itu bagi ruh yang lurus dan suci.

Dengan kualitas ruh ini, manusia memperoleh ketenangan ruhani dan obat pencegah penyakit jiwa, pembuka aliran keutamaan akhlak, ketulusan hati, sayang sesama makhluk dan saling memahami antarmanusia.

Kesimpulannya, maksud dari dzikir dan ingat Allah bukan sekedar mengucapkan kata-kata dan nama-nama tertentu di lidah; dzikir kepada Allah yaitu hubungan ruh: pikiran dan hati, dengan Asal Ruh: Allah SWT. Kuatnya hubungan ini juga dapat mempengaruhi kehidupan lahir dan batin manusia. Allah berfirman tentang dzikir sejati, yang berarti dzikir sepenuh hati:

وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ 

“Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang dengan tidak mengeraskan suara, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah” (QS. Al-A’raf [7]: 205).

Oleh ayat lain kita untuk kesekian kalinya diingatkan:

وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا 

“Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas” (QS. Al-Kahfi [18]: 28).

Perlu juga dicatat di akhir ini bahwa, pertama, dzikir/ingat Allah bukan alternatif salat sehingga menggantikan kewajiban salat. cara terbaik berdzikir, beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah adalah salat. Semakin berkualitas salatnya, semakin tinggi nilai dzikirnya. Sebaliknya, meninggalkan salat wajib sama saya berpaling dari dzikir/ingat kepada Allah.

Kedua, dzikir lisan (dengan kata-kata) dapat merasukkan dzikir/ingat Allah dan merembas di dalam hati. Maka, dzikir lisan adalah satu cara pengantar untuk dzikir hati. Jadi, melafalkan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, memahami dan meresapinya dengan kesadaran pikiran dan hati merupakan salah satu bentuk dari dzikru-Allah.—(IK-AFH).

Share Page

Close