• LAINYA

TAFSIR-POLITIK–Seorang filosof Arab kontemporer asal Maroko, Abed Al Jabiri, mengamati kondisi dan posisi umat Islam sekarang sebagai mawdhu’, yakni objek hegemoni kekuatan-kekuatan dunia. Agak aneh memang jika melihat ajaran Alquran yang meyakinkan dan mewajibkan umat ini agar menjadi yang terbaik (QS. Al Imran [3]: 110) dan paling unggul (QS. Al Imran [3]: 139).

Dorongan dan desakan agar umat Islam menampati posisi kuat yang selayaknya diangkat Alquran hingga ke tingkat kewajiban. Ayat di bawah ini menggunakan aksentuasi bahasa yang begitu kuat agar umat Islam membangun kekuatan sewajib-wajibnya, sehebat dan sewibawa mungkin.

Kewajiban ini bukan utopia, mimpi, tidak realistis. Faktanya dan diakui para pakar sejarah peradaban, Nabi SAW bersama sahabat telah membuktikan realitasnya dengan meninggalkan jejak peradaban dan catatan gemilang kejayaan di antara kekuatan-kekuatan dunia hanya dalam tempo kurang dari seperempat abad.

“Dan persiapkanlah segala kekuatan sejauh yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dan pasukan berkuda hingga menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahui mereka, tetapi Allah mengetahui mereka. Dan apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya dibalas sepenuhnya kepadamu dan kamu tidak akan dizhalimi.”
(QS. Al-Anfal [8]: 60).

Pertama: ayat ini diawali dengan perintah yang berarti kewajiban. Beban perintah ini jatuh ke atas umat Islam bukan hanya sebagai pribadi, tetapi juga sebagai masyarakat. Maka kewajiban mempersiapkan kekuatan adalah kewajiban sosial-politik Muslimin.

Kedua: Kewajiban sosial dan politik ini tidak terbatas. Hampir tidak ada kewajiban yang dinyatakan dan diperintahkan dengan redaksi kuat seperti ayat ini.

Semua kewajiban ada batasnya kecuali kewajiban ini. Mempersiapkan segenap kekuatan tidak ada batasnya. kewajiban-kewajiban seperti shalat ada batas waktunya, puasa ada waktunya. Demikian pula zakat, haji, jihad wajib pada kondisi dan waktu tertentu.

Baca Juga :  Sejarah Wahyu dan Kenabian: Studi atas Kisah Waraqah bin Naufal

Tetapi tugas dan kewajiban agar umat Islam mempersiapkan segenap dan berbagai kekuatan sosial-politik tidak ada batasnya, tidak terbatas pada waktu, tempat dan kondisi tertentu.

Ketiga: ayat ini sekaligus dinamis dan fleksibel dalam menanggapi pertanyaan: bagaimana umat Islam harus mempersiapkan kekuatan yang tanpa batas itu?

Frasa “sejauh yang kamu mampu” menegaskan agar masyarakat Muslim mempersiapkan diri dan kekuatan mereka sejauh potensi, kapasitas, fasilitas dan peluang apa saja yang tersedia di zaman dan wilayahnya.

Bila pada jaman turunnya ayat ini pasukan berkuda itu termasuk angkatan elit bersenjata sehingga disinggung dalam ayat ini, kini angkatan elite bisa berupa satuan komando tempur dengan kecanggihan teknologi militer paling canggih.

Diriwayatkan, tatkala Nabi SAW tahu suatu persenjataan berhasil dibuat di Yaman, beliau mengutus seorang sahabat ke negeri itu. Beliau bersabda, “Dengan satu anak panah, tiga orang masuk surga: pembuatnya, penyiapnya dan penggunanya” (Tafsir Al-Furqan).

Keempat: frasa “sejauh yang kamu mampu” hanya akan bermakna dan dapat terlaksana bila umat Islam memahami potensi dirinya sendiri dan situasi di zaman mereka hidup.

Masyarakat Muslim yang tidak menyadari keadaan dirinya, tidak tahu kekuatan dalam diri mereka sendiri, tidak percaya pada diri sendiri, sudah barang tentu tidak akan mempersiapkan diri semaksimalkan mungkin dan mengoptimalkan segenap kekuatan internal dan eksternal diri mereka.

Kelima: kemampuan dan kekuatan ada dua: internal dan eksternal. Salah satu kekuatan internal umat Islam yang paling utama adalah persatuan atas dasar iman dan cinta sesama di bawah kepatuhan dan kepercayaan pada pemimpin.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang-teguhlah pada tali Allah dan janganlah berpecah-belah!” (QS. Al Imran [3]: 103).

Baca Juga :  Etika dan Seni Marah (3): Relasi Kekuasaan antara Orang Kuat dan Orang Lemah

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya tegas terhadap orang-orang kafir namun saling menyayangi di antara mereka (QS. Al-Fath [48]: 29).

Penyebutan nama Nabi SAW di awal ayat ini sekaligus mengingatkan umat Islam akan keberadaan dan kekuatan beliau sebagai pemimpin yang tangguh dan penyayang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلً
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. Al-Nisa’ [4]: 59).

Sebaliknya, umat Islam pasti lemah, pecundang dan akan tetap berstatus “objek” hegemoni bila masih bingung apalagi tidak punya kepemimpinan quranik, persatuan dan kecintaan sesama.

Keenam: Frasa “sejauh yang kamu mampu” menekankan agar umat Islam memakasimalkan sekecil apa pun potensi dan kemungkinan serta menguasai berbagai kekuatan dan peluang di berbagai medan dan dimensi ketahanan, pertahanan hingga konfrontasi.

Ketujuh: kewajiban persiapan dan kesiapan ini juga mencakup semua bidang pembangunan kekuatan: yang terkait dengan pengayaan data dan informasi, teknologi komunikasi, persenjataan, keamanan, intelijen, kekuatan ekonomi, dan sosial budaya. Kewajiban atas umat Islam ini tetap berlaku kuat dalam penguatan dan pemberdayaan berbagai bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, sejarah hingga peradaban.

Kedelapan: kewajiban umat Islam agar memiliki segenap kekuatan tanpa batas akan mendorong mereka untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk sehingga mereka siap kapanpun dan di manapun menghadapi rencana dan agenda buruk pihak-pihak eksternal di berbagai sektor, termasuk informasi, ekonomi, hukum, budaya dan politik.

Baca Juga :  Profil Pemimpin Ideal dalam Tasawuf Politik Platon dan Khomeini (2): dari Anjing sampai Filosof-Sufi

Berikut kata-kata bijak sahabat mulia Nabi, Ali bin Abi Thalib:
“Orang yang tahu situasi zamannya tidak akan dilibas oleh dinamika.”
“Nilai seseorang adalah pemahamannya akan zamannya.”
“Orang yang paling paham zamannya adalah manusia yang tidak terpedaya dengan dinamikanya.”
“Orang yang mudah percaya pada situasi pasti tersungkur.”
“Orang yang menyepelekan situasi akan terkhianati, dan orang yang memandangnya penting akan membuatnya mudah.”BERSAMBUNG

Share Page

Close