• LAINYA

TAFSIR-ETIKA–Tidak selamanya hidup ini senang, juga tidak selalunya hidup ini susah. “Ujian adalah hukum kehidupan” merupakan hukum kehidupan yang tidak hanya dibunyikan dalam Alquran, tetapi juga diperagakan oleh orang-orang pilihan Allah dalam situasi yang paling sulit, yakni dalam ujian dan pengujian yang paling berat.

Sepanjang pengalaman diuji, mereka tidak pernah putus asa; senantiasa optimis akan jalan keluar dan janji kemudahan dari Allah. Hukum kehidupan kedua, “Ada masalah, ada solusi.” Setiap ujian ada penyelesaian, dan Allah tidak akan membebankan ujian kecuali sejauh kemampuan manusia.

Hukum kehidupan ini secara lebih kuat dinyatakan, “Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan” (QS. Al-Syarh [94]: 5-6).

Di ayat lain, “Dan mereka yang berjihad (bekerja gigih) pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami” (QS. Al-Ankabut [29]: 69).

ASAL MAU PASTI BISA–quranika.com

Syeikh Muhammad Mutawalli Al-Sya’rani mengutip sebuah kata-kata dari Sayyidina Ja’far bin Muhammad al-Shadiq, riwayat yang merangkum keadaan manusia pilihan Allah yang mengajarkan jalan keluar, yaitu berusaha gigih dengan tetap bersama Allah melalui doa, optimisme, dan tawakal kepada-Nya.

Sayyidina Ja’far bin Muhammad al-Shadiq berkata:
“Aku heran terhadap orang yang merasa tak berdaya menghadapi empat keadaan tetapi tidak menghadapkan empat hal:

[1] “Aku mendengar Allah Yang Mahatinggi berfirman, Hasbunallah wa ni’mal wakil “Cukuplah Allah [jadi penolong] bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung” (QS. Al Imran [3]: 173).
Maka, aku heran terhadap orang yang takut tetapi tidak berharap pada lanjutan ayat ini, “Maka mereka kembali dengan karunia dari Allah dan kebaikan yang tidak ada keburukan menyentuh mereka.”

[2] “Aku mendengar Allah SWT berfiman, La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadz-dzalimin “Tidak ada tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau! Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 87).
Maka, aku heran terhadap orang yang resah tetapi tidak berharap pada lanjutan ayat itu, “Maka Kami kabulkan permohonannya dan Kami selamatkan dia dari keresahan, dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang beriman.”

Baca Juga :  Kehidupan Setelah Kematian, dari Kegelisahan hingga Kelegaan Presiden Soekarno

[3] “Aku mendengar Allah SWT berfiman, Wa ufawwidhu amri ila-llah, inna-llah bashirun bil ‘ibad “Dan aku serahkan urusanku kepada Allah, sesugguhnya Allah mahamelihat akan hamba-hamba” (QS. Ghafir [40]: 44).
Maka, aku heran terhadap orang yang diperdaya tetapi tidak berhadap pada lanjutan ayat ini, “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka”.

[4] “Aku mendengar Allah SWT berfirman, Masya-Allah la quwwata illa bi-llah “Sungguh hanya atas kehendak Allah, tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah” (Al-Kahfi [18]: 39).
Maka, aku heran terhadap orang yang menginginkan dunia dan kenikmatannya tetapi tidak berharap pada lanjutan ayat ini, “Sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit dari kamu, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku kebun yang lebih baik dari kebunmu.”

Share Page

Close