• LAINYA

4. Wahdatul Wujud: di Awal Alquran

Tauhid dalam pengertian Wahdatul Wujud bukan hanya tertuang dalam ayat Cahaya, tetapi juga dapat dijumpai bahkan di awal kali membuka lembaran Alquran, tepatnya di surat Al-Fatihah. Sebagai ibu Alquran (ummu al-kitab), ayat-ayat anak Alquran dapat pula digali dari dalam rahim Al-Fatihah. Pengertian doktrin tasawuf dalam ayat Cahaya di atas tampak relevan dengan ayat kedua Al-Fatihah:

Segala puji bagi Allah, Tuan alam-alam. (QS. Al-Fatihah 1: 2)

Tuan alam-alam yakni Tuhan seluruh makhluk, seluruh apa saja selain-Nya. Di sepanjang Alquran, ayat dengan redaksi yang sama terulang di enam surat (QS.Al-An’am 6: 45; QS. Yunus 10: 10; QS. Al-Shaffat 37: 182; QS. Al-Zumar 39: 75; QS. Ghafir 40: 65).

Dalam perbandingannya, ayat Cahaya menyatakan bahwa “Allah Cahaya lelangit dan bumi.”  Agar tetap dicatat bahwa cahaya yaitu nyata dengan sendirinya dan membuat selainnya jadi nyata. Demikian pula dalam ayat kedua dari al-Fatihah di atas, pujian yaitu memurnikan sesuatu dari kekurangan dan mengagungkan kesempurnaannya.

Jika cahaya selain Allah itu, pada hakikatnya, hanyalah identik dan milik Allah, pujian apa pun yang dilekatkan pada apa saja selain Allah juga sesungguhnya dan pada hakikatnya milik Allah dan pinjaman dari Dia, bukan milik mereka sama sekali, karena mereka pada dirinya sendiri bukan apa-apa dan tidak punya apa-apa. Sahal Al-Tustari mengatakan, “Pujian tidak akan tertunaikan sepenuhnya kecuali dengan meniadakan selain Allah.” (al-Tustari, 2004, p. 85).

Dengan kata lain, kalau makhluk pada dirinya sendiri saja bukan apa-apa, bagaimana mungkin lantas dianggap punya kelebihan dan kesempurnaan yang layak dipuji dan dikagumi. Sebaliknya, kalau saja cahaya dan Ada makhluk itu hanya milik Allah, segala kelebihan dan kesempurnaan yang dianggap milik makhluk sudah barang tentu hanyalah milik Allah.

Baca Juga :  Filsafat Maulid Nabi: Merayakan Kemanusiaan atau Kebinatangan Diri Sendiri

Ayat Hamdu ini tidak sekedar menyatakan bahwa segala puji dan pengagungan selayaknya milik dan tertuju kepada Allah, tetapi juga pada dasarnya pujian, penghormatan dan apresiasi apa pun senyatanya tertuju hanya kepada Allah. Tidak ada pujian apa pun kecuali milik Allah. Termasuk kekaguman dan sanjungan yang dipendam atau diungkapkan seorang ateis dan kafir terkait sesuatu, pada hakikatnya, sedang memuji Allah, sekalipun dia tidak sadar.

Apa yang ada di lelangit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah; hanyalah milik-Nya semua kekuasaan dan hanyalah bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”  QS. Al-Taghabun 64: 1).

Dalam salah satu doa di shalat Tahajud, Nabi SAW berdoa dengan merangkaikan al-hamdu (pujian) dengan cahaya bagi Allah SWT, “Ya Allah! Bagi Engkaulah segala pujian, Engkaulah Cahaya lelangit dan bumi dan apa saja di dalamnya. Bagi Engkaulah segala pujian, Engkaulah pengatur lelangit dan bumi dan apa saja di dalamnya.” (al-Bukhari, 2002, v. 1, p. 377).

Apa pun selain Allah, bukan hanya tidak memiliki keagungan, pada diri mereka sendiri tidak memiliki apa-apa, pada dirinya hanyalah kekurangan, kebergantungan dan ketiadaan sehingga tidak layak dipuji dan diagungkan. Maka, pemahaman dari ayat Cahaya ini, bukan hanya tidak bertentangan, justru koheren dan terdukung oleh ayat kedua dari surat Al-Fatihah.

Pengertian Tauhid ini juga dinyatakan dalam tafsiran literal Imam Raghib Isfahani, “Segala bentuk dan macam pujian di sini merupakan pengingatan bahwa pujian apa pun, seluruhnya, tidak layak dimiliki oleh selain Allah, dan bahwa setiap pujian dan pemujian untuk selain Allah tidak lain hanyalah ‘āriyah (pinjaman). Hanya Allah yang pada hakikatnya berhak dan selayaknya pemilik segenap pujian … Karena itu, Dzul al-Nun berpuisi:

Baca Juga :  Tadabur: QS. Al-Kahfi [18]: ayat 16

Ada saksi pada segala sesuatu,

yang buktikan Dialah satu” (Ishfahani, 1984, p. 119-120).

Bersambung ke: “Isyarat Literal Ayat Cahaya: Menggali Wahdatul Wujud dari Terjemah Alquran (6): antara Afirmasi dan Negasi”

 

Share Page

Close