• LAINYA

SEJARAH-TASAWUF–Tuan Dalai Lama sudah luas dikenal sebagai salah satu pemuka Buddha. Ia sendiri menganggap dirinya juru bicara agama ini di era kontemporer hingga kerap dipandang sebagai pemimpin umat Buddha Tibet.

Terkait dengan spiritualitas dan spiritualisme dalam hidup kita, Tuan Dalai Lama pernah mengatakan, “Seseorang mungkin saja menemukan kedamaian dengan beriman pada Tuhan. Dan orang lain boleh jadi menemukan kedamaian yang sama dengan tidak percaya Tuhan. Maka, setiap orang harus mencari obat yang tepat untuk dirinya.”

Kalau memang begitu, seorang juga dibenarkan mencari dan menikmati kedamaian dengan mengonsumsi narkoba! Begitu juga orang yang mengharapkan kepuasan hidup dari gaya hidup hedonis.

Pada dasarnya, apakah perdamaian dan kenyamanan batin seperti itu adalah kebahagiaan hakiki kita sebagai manusia? Apakah kedamaian melalui ajaran agama dan ibadah kepada Tuhan itu benar-benar sama dengan kedamaian yang diperoleh melalui ketidakpercayaan dan penyangkalan terhadap Tuhan?

Tentu saja, kata-kata Tuan Tenzin Gyatso (lahir 6 Juli 1935), Dalai Lama ke-14, di atas tadi tidak perlu dianggap terlalu serius. Sejauh ini, ampakna dia sendiri tidak mencapai posisi “Dalai Lama” melalui meditasi dan pelatihan ruhani, tetapi berolak dari klaimnya  bahwa roh Buddha terserap dalam dirinya dan dirimnya dipilih sebagai pemimpin umat Buddha Tibet tanpa usaha berarti sejak kecil. Agaknya dia mengandalkan takhta kekuasaan religius dan popularitas spiritualitas untuk kepentingan keduniaan.

Persahabatan Dalai Lama dengan George W Bush bukan rahasia lagi. Baru-baru ini (18, Rabu 2022),Presiden Amerika ini menganggap kebrutalan agresinya terhadap rakyat Iraq pada 2003 dengan alasan yang sudah dianggap pembohongan  masyarakat dunia bahwa di sana ada senjata pemusnah massal.

Dalai lama juga tidak merahasiakan kedekatannya dengan rezim Zionis Israel yang bukan hanya anti spiritualisme, etapi bahkan tidak peduli dengan aksi-aksi anti kemanusiaan. Sejauh ini, dia cukup puas sekedar menimak kebrualan rezim penjajah iu seolah tidak keberatan untuk diseriusi dokrinnya tentang spiritualisme dan mistisisme itu sebagai keyakinannya.

Baca Juga :  QS. Al-Mukminun [23]: 78; Filsafat Mendengar, Melihat dan Menjiwai

Pada musim gugur 2007, Dalai Lama menerima penghargaan tertinggi Amerika Serikat dari George W. Bush, dihantarkan dengan puja-puji darinya.

Dalai Lama pernah ditanya, apa keinginan terbesar Anda? “Makanan enak dan tidur nyenyak,” katanya. Tampaknya tidak ada makhluk yang puas dengan yang sedikit. Apakah ini untuk terbebas dari keinginan dan untuk mencapai puncak pengetahuan, kebijaksanaan dan posisi yang dicapai seorang Buddhis setelah bertahun-tahun melakukan mistisisme, meditasi dan, sebagai hasilnya, meraih Nirvana?

Bertentangan dengan slogan terkenal umat Buddha tentang kedamaian dan dunia tanpa kekerasan, bagaimana sekelompok individu dan bahkan biksu Buddha membiarkan pembantaian atas umat muslim Myanmar, pemerkosaan dan penjarahan harta benda mereka. Tidak sedikit masjid dan rumah mereka digusur dan dihancurkan di sana. Mereka menunjukkan perilaku yang tidak kurang brutal dan ganas. Di mana Dalai Lama?

Tentu saja, kejahatan sekelompok pengikut suatu agama tidak dibenarkan dikaitkan dengan agama itu sendiri atau dengan semua umat agama tersebut. Karena itu, tidak boleh menganggap semua umat Buddha terlibat dalam kejahatan itu. Sayangnya, tidak sedikit umat Buddha di banyak tempat sekedar diam menyimak kejahatan kemanusiaan tersebut.

Di mana Dalai Lama? Jika kemanusiaan dan keidakadilan saja tidak dianggap penting, bagaimana bicara tentang spiritualisme dan aspek ruhani dari kemanusiaan?!

Referensi: Fana’i Esykevari, Tasawuf Komparatif, p.78

 

 

Share Page

Close