• LAINYA

TAFSIR-SEJARAH–Ada banyak teks salawat yang mengajarkan muslim bagaimana memuji Nabi SAW. Betapapun indahnya teks-teks itu, tidak ada deskripsi yang paling lembut dan agung tentang Baginda Nabi SAW daripada Pencipta dan Pecintanya: Allah Yang Mahatahu dan Maha Bijaksana.

Dia seorang nabi yang namanya muncul dalam Taurat dan Alkitab, “tertulis bersama mereka dalam Taurat dan Injil” (Al-A’raf [7]: 157);

Dia satu-satunya nabi terakhir dan penutup kenabian, “pemungkas para Nabi” (Al-Ahzab [33]: 40)

Dia satu-satunya nabi yang dimukjizatkan Allah dalam perjalanan isra-mikraj di atas dan ke atas bumi, “Dia telah memberangkatkan hamba-Nya di malam hari” (Al-Isra [17]: 1)

Dia nabi yang dimuliakan Allah, “Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangatlah agung” (Al-Nisa’ [4]: 113). Pemuliaan ini tidak diberikan Allah kepada nabi yang lain; hanya kepada Nabi Muhammad.

Dia satu-satunya nabi yang dianugerahi Allah dengan nikmat yang melimpah, “Sungguh Kami telah memberimu nikmat yang banyak” (Al-Kautsar [108]: 1).

Dia nabi yang dihormati Allah dengan bahasa indah dan kuat, “Dan sungguh engkau benar-benar di atas budi-pekerti yang agung” (Al-Qalam [68]: 4). Allah tidak memberikan penghormatan seagung ini kepada selain Muhammad.

Hanya kepada dia, Muhammad, Allah mengatakan, “Kemudian dia mendekat, lalu dia bertambah dekat, sehingga jaraknya hanya dua busur panah atau lebih dekat lagi” (Al-najm [53]: 8-9), sebuah kedekatan paling ekstrem bersama Allah.

Muhammad satu-satunya nabi yang diagungkan Allah sedemikian tingginya, “dan Kami tinggikan sebutan (nama)-mu bagimu” (Al-Insyirah [94]: 4).

Muhammad satu-satunya nabi yang selalu dicurahi salam dan salawat agang. Hanya dia yang disalawati Allah dan para malaikat terus-menerus, “Sungguh Allah dan malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi” (Al-Ahzab [33]: 56).

Baca Juga :  Tadabur: QS. Al-Fatihah [1]: ayat 7 (Bagian Pertama)

Kemudian Allah SWT menerbitkan perintah kepada segenap manusia untuk juga bersalawat kepada Muhammad, “Hai kamu yang beriman! Bersalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan salam setulus-tulusnya kepadanya.”

Muhammad, dialah satu-satunya nabi yang setiap anggota tubuhnya suci dan terjaga.

Matanya suci, “Penglihatannya tidak menyimpang dan tidak pula melampaui batas” (Al-najm [53]: 17).

Lidahnya suci, “Dan dia tidak berbicara dari nafsu” (Al-najm [53]: 3).

Hingga hatinya suci dan murni, “Hatinya tidak dusta atas apa yang telah dilihatnya” (Al-Najm [53]: 11).

Muhammad dialah satu-satunya nabi yang anggota tubuhnya dimuliakan Allah dalam kitab suci-Nya.

Wajahnya, “hadapkanlah wajahmu!” (Yunus [10]: 105)

Dadanya, “Tidakkah telah Kami lapangkan dadamu?!” (Al-Insyriah [94]: 1).

Punggungnya, “Tidakkah Kami telah melepaskan bebanmu darimu yang telah memberatkan punggungmu” (Al-Insyirah [94]: 2-3).

Tangannya, “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu” (Al-Isra’ [17]: 29).

Matanya, “Janganlah sekali-kali engkau tujukan kedua matamu kepada kenikmatan hidup…” (Al-Hijr [15]: 88).

Lehermu, “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu” (Al-Isra’ [17]: 29).

Pakaiannya, “Dan pakaian-pakaianmu sucikanlah” (Al-Muddatstsir [74]: 4).

Istri-istrinya, anak-anak perempuannya dan keluarganya (Al-Ahzab [33]: 28-34; Al-Syura [42]: 23).

Sahabatnya, “Dan orang-orang terdahulu yang pertama-tama dari kaum Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” (Al-taubah [9]: 100).

Umatnya, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh berbuat baik dan mencegah keburukan” (Al Imran [3]: 110).

Dan Muhammad hanyalah satu-satunya manusia yang dibahagiakan Allah dengan firman-Nya, “Sungguh Kami telah memberimu kemenangan yang nyata” (Al-Fath [48]: 1).

Muhammad satu-satunya manusia yang dijanjikan agamanya, ajarannya, umatnya akan menyebar ke seluruh penjuru dunia; Islam akan akan kuasa dan unggul di atas muka bumi ini, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama kebenaran untuk mengunggulkannya di atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” (Al-Taubah [9]: 33). Janji ini tidak diberikan kepada nabi yang lain.

Baca Juga :  Filsafat Maulid Nabi: Merayakan Kemanusiaan atau Kebinatangan Diri Sendiri

 

Ini hanya sebagian dari siapa Muhammad agar setiap orang tahu diri apa yang telah dia perbuat dengan karunia agung ilahi ini: mensyukurinya, menjaga martabatnya, menjalankan ajarannya atau justru membuatnya luka, menghitamkan wajah dan martabatnya.

“Dan katakanlah, ‘Berbuatlah kalian, maka Allah akan melihat perbuatan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang beriman” (Al-Taubah [9]: 105).

ِApakah ada rasa puas ikut dan ikut-ikutan bertengkar di ruang-ruang publik tanpa rasa malu? Saling menghujat dan menunjukkan keperkasaan dan kegagahan hanya untuk mencemooh satu sama lain lalu setelah itu memuja-muji Nabi sebagai nabi rahmat? Tidakkah itu penghinaan atas Nabi sendiri?

Cerminkan wajah rahmat dan sayang Nabi dalam diri setiap muslim kepada sesama muslim dan semua manusia. Nabi manusia pejuang yang paling menderita, jauh lebih keras penderitaannya daripada ketersinggungan dan keterhinaan muslim dari muslim yang lain. Dia pasti menderita dan hancur hatinya melihat umatnya saling adu kepandaian hanya untuk menghina dan mempermalukan satu sama lain.

JANGAN PERNAH KEINGINANMU MENGIKAT HUBUNGAN DENGAN SAUDARAMU DIKALAHKAN OLEH KEINGINAN SAUDARAMU MEMUTUS HUBUNGAN DARIMU!–Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.

Sebaliknya, ambil kemauan dan ketetapan untuk menjadi bagian dari khairu ummah ‘bangsa terbaik’ yang menebarkan rahmat muhammadian dengan cara amar maruf dan nahi munkar dengan motif persaudaraan, cinta dan sayang sesama, entah seiman ataukah sesama makhluk Tuhan, cinta dan sayang yang melebihi keinginan baik dokter dan perawat akan kesembuhan pasiennya.

Nabi dalam deskripsi Sayyidina Ali adalah “tabib keliling dengan obatnya.” Seorang dokter yang hanya fokus memperkaya diri, apalagi berhati penuh kebencian atau berputus asa, tidak kurang jahatnya dari musuh curang yang menusuk kawan dari belakang. Dokter hanya benar-benar jadi agen kesehatan dan keselamatan masyarakat bila hatinya tulus, hati-hati dan peduli.

Baca Juga :  Isyarat Literal Ayat Cahaya: Menggali Wahdatul Wujud dari Terjemah Alquran (6): antara Afirmasi dan Negasi

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, berasa terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, dia sangat menginginkan kebaikan bagimu, penyantun dan penyayang kepada orang-orang beriman” (Al-Taubah [9]: 128).

Tidak ada cara yang pasti memuliakan Baginda Nabi selain kembali kepada Alquran. Baca, pahami dan amalkan. Hanya satu keluhan Baginda Muhammad SAW langsung kepada Allah dan termaktub dalam Alquran, yaitu perlakuan umatnya atas Alquran itu sendiri, pusaka abadi kemanusiaan:

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Tuhanku! Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini terlantar” (Al-Furqan [25]: 30).

Share Page

Close