• LAINYA

5. Wahdatul Wujud: antara Afirmasi dan Negasi

Pada Bab Kedua dari Misykāt Al-Anwār, Imam Ghazali membubuhkan beberapa tafsiran atas ayat Cahaya, di antaranya cahaya itu nyata yang, karenanya, segala sesuatu menjadi nyata. “Ketaknyataan itu tak lain adalah tiada, sedangkan kenyataan itu tak lain adalah Ada. Allah SWT adalah Ada dan tidak mungkin tiada … Dia yang dengan-Nya segala sesuatu meng-Ada. Maka Dia cahaya setiap kegelapan dan kenyataan setiap ketaknyataan. Jadi, Cahaya Absolut itulah Allah, bahkan Dialah Cahaya-nya cahaya-cahaya.”[1]

Dapat diamati ungkapan tauhid di tingkatan ini terbentang di antara dua sayap: negasi dan afirmasi yang saling melengkapi. Afirmasi atas Ada Absolut dan Kesatuan Mutlak Allah tidak akan tuntas tanpa negasi atas Ada dan cahaya dari apa saja selain Allah. Tidak ada tuhan kecuali Dia, segala sesuatu adalah lenyap kecuali wajah-Nya (QS. Al-Qashash 28: 88)

Lenyap berarti tiada. Hālik diterjemahkan menjadi lenyap karena bentuk morfologis hālik dalam bahasa Arab memberi makna sedang berlangsung, kontinyu, terus menerus. Maka, ayat ini menerangkan bahwa segala sesuatu selain wajah Allah adalah senantiasa dalam keadaan melenyap dan meniada.

Dalam pengertian inilah status makhluk pada dirinya sendiri sebagai bukan apa-apa dan ketidakpunyaan, pengertian yang diungkap penyair Arab, Lubaid bin Rabi’ah, dan dikagumi Nabi SAW sebagai kata-kata Arab Jahiliyah paling bijak, “Ketahuilah bahwa segala sesuatu selain Allah itu batil.”[2] Uniknya, Ibnu Hajar menafsirkan batil ini dengan kalimat yang senafas kuat dengan Wahdatul Wujud, “Batil dalam bait ini yaitu lenyap, bukan rusak.” (al-Asqalani, 2017, v. 2, p. 1713).

Adapun kata wajah dalam ayat, dalam tafsir Al-Jalalayn, diartikan dengan Dia (iyyāhu), yakni “kecuali Dia”. Ia mengulang tafsiran dari Zamakhsyari (1998, v. 4, p. 531), namun di sana ada keterangan tambahan, “Wajah di sini yaitu Esensi (al-dzāt).” Esensi yakni entitas dan realitasnya. Ini dikuatkan oleh mufasir sastrawan Arab, Sayyid Murtadha, dalam tafsirnya, juga dimufakati oleh para mufasir sufi seperti Imam Ghazali, al-Qusyairi, Ruzbahan Baqli, Thabathaba’i.

Baca Juga :  Alquran Tertua Asia Tenggara Ada di Timur Indonesia

Ibnu Arabi menulis, “Segala sesuatu adalah sirna dan lenyap, sementara pelenyap tidak akan menjadi lenyap. Maka, tidak ada di Ada ini kecuali Allah. Dan apa pun yang tampak adalah tak lain dari Dia yang nyata dengan sendiri-Nya.” (Ibnu Arabi, 1989, v. 3, 315).

Dari ayat ini Ibnu Arabi menarik kaidah: segala sesuatu yang tidak lenyap adalah wajah dan esensi Allah. Atas dasar ini, jika sesuatu tetap ada dan nyata, maka “sesuatu itu tidak lain adalah wajah Allah.” Jadi, bagaimanapun selain Allah itu dianggap ada atau tidak ada, ada-tiadanya tidak berarti apa-apa kecuali menegaskan dan mempernyatakan Ada Allah. Karena itu, ayat di atas dilanjutkan dengan kalimat berikut, Hanya bagi-Nyalah ketetapan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Apa saja yang tetap dan ada niscaya ketetapan dan Ada-nya milik Allah. Penetapan Ada pada sesuatu bukanlah sungguh milik dirinya, tetapi milik Allah. Maka, pernyataan “Aku ada” adalah penetapan metafor suatu predikat (ada) pada subjek (aku), karena predikat (ada) itu pada hakikatnya bukan milik subjek (aku). Ada, sejatinya, hanyalah milik Allah. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pernyataan “Aku ada” merupakan ungkapan lain dari “Allah ada”, seperti juga “Aku bercahaya” sesungguhnya adalah “Allah cahayaku”. Semua klaim dan ketetapan Ada beserta atribut-atribut kesempurnaan yang menyertai Ada berasal dari dan kembali kepada Allah, yakni sepenuhnya, seluruhnya, seutuhnya sejatinya hanyalah milik Allah. “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada Dia kita sedang kembali”  (QS. Al-Baqarah 2: 156).

Dekat sekali dengan ayat ke-88 dari surat Al-Qashash di atas adalah ayat ke-70 di surat yang sama. Coba tinjau kembali ayat ke-88, “Tidak ada tuhan kecuali Dia, segala sesuatu adalah lenyap kecuali wajah-Nya.”  Lalu bandingkan dengan ayat ke-70, “Dan Dialah Allah; tidak ada tuhan kecuali Dia, bagi-Nyalah segala pujian di dunia dan di akhirat.”

Dua ayat ini sama di penggalan pertama dan beda di penggalan kedua namun, jelas sekali, saling berkaitan. Yakni, kelenyapan dan ketiadaan segala sesuatu merupakan konsekuensi dari keberadaan Allah sebagai pemilik seluruh pujian dan kesempurnaan alam semesta. Telah dicatat sebelumnya, karena Allah adalah Ada Hakiki, maka Dia Pemilik Ada dan Penguasa segala yang-ada, sehingga segala sesuatu selain Dia adalah ketiadaan. Kepemilikan mutlak dan ketunggalan perkasa Allah menaklukkan dan meluluhlantakkan hingga melebur-lenyapkan apa saja yang dianggap dan diklaim sebagai sesuatu. “Katakanlah bahwa semua dari Allah”  (QS. Al-Nisa’ 4: 78),Segala apa yang ada di atasnya adalah sirna. Dan tetap-ada wajah Tuanmu Pemilik kebesaran dan kemuliaan. (QS. Al-Rahman 55: 25-26)

Baca Juga :  Masuk Islam karena Alquran (6): Arthur Wagner, Tokoh Pimpinan Partai Anti-Muslim di Jerman (1)

Karena itu, penafsiran yang berorientasi ke Wahdatul Wujud juga mengandung dua unsur: afirmasi dan negasi tadi, sehingga dalam pengertiannya menjadi lengkap dan utuh, tidak sepenggal-sepenggal. Ini sebagaimana adanya kalimat Tauhid: lā ilāha illā-Allāh. Di dalamnya, ada negasi atau takhalli (lā ilāha) juga ada afirmasi atau tahalli (illā-Allāh). Wahdatul Wujud juga merupakan tajalli derajat Tauhid yang mengafirmasi Ada Allah sekaligus menegasikan Ada dari selain Allah, entah itu tuhan (t kecil) maupun makhluk.

Dua unsur: afirmasi dan negasi, itu juga dijelaskan dalam dialog Ja’far bin Muhammad al-Shadiq dengan muridnya, Abu Hanifah. Ja’far bertanya, “Apakah engkau tahu suatu kalimat yang yang diawali dengan kekafiran dan diakhiri dengan keimanan?” “Aku tidak tahu”, jawab Abu Hanifah. Ibnu Abi Laila yang turut hadir bertanya, “Lalu apa kalimat itu?” Ja’far menjawab, “Yaitu perkataan, Lā ilāha illā Allāh (tidak ada tuhan kecuali Allah).” (al-Tabarsi, 2001, p. 358).

Kalimat kafir “tidak ada tuhan” yaitu meniadakan tuhan. Lalu, kalimat negatif ini dianulir oleh kalimat selanjutnya, “kecuali Allah”, yang menetapkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Dalam dua kalimat ini tidak ada makhluk, karena memang ia tidak ada apa-apanya hingga tidak diperhitungkan entah sebagai objek negasi ataupun objek afirmasi kalimat. Maka itu, kandungan kalimat Tauhid secara harfiah menyatakan Ada Allah dan keesaan-Nya, yakni mentauhidkan Allah sebagai Realitas yang satu-satunya ada.

Kalimat Tauhid secara terperinci diuraikan sepenuhnya dalam surat Al-Ikhlas. Surat ini dibuka dengan dua ayat afirmatif lalu dituntaskan dengan dua ayat negatif. Dua tinjauan afirmatif juga negatif itu menegaskan doktrin Alquran bahwa hasil perkalian negasi dan afirmasi ini ialah pembatasan eksklusif (al-hashr) bahwa yang ada hanyalah Allah, adapun selain Allah—entah itu disebut tuhan apalagi selain tuhan—pada hakikatnya adalah tiada dan ketiadaan. Bersambung

 

Baca Juga :  Mengenal Tafsir Sufistik-Filosofis Surat Al-Fatihah, Karya Mulla Sadra (2): Isti’adzah, Analisis Aklani (1)

————————————

[1] Ghazali, Abu Hamid Muhammad: Misykāt Al-Anwār wa Mishfāt Al-Asrār, hlm. 144. Jauh sebelumnya, Sayidina Husain bin Ali ra. dalam munajatnya mengungkapkan pengalaman tauhidnya begitu lembut, “Adakah bagi selain-Mu kenyataan yang tidak Engkau miliki sehingga itu menjadi penyata bagi-Mu?! Butalah mata yang tidak melihat-Mu!”

[2] Al-Bukhari: Shahīh Bukhārī, hadis no. 3628

Share Page

Close