• LAINYA

TAFSIR-POLITIK—Mengapa orientasi politik di kalangan umat Islam tidak pernah hangus dan mati? Sebangun dengan ini, faktor apa yang menghadang proyek sekularisme hingga, sampai saat ini, tidak benar-benar berhasil di masyarakat muslim?

Bisa jadi pertanyaan ini tampak tidak relevan hanya ditujukan kepada umat Islam. Politik itu orientasi semua orang, semua generasi, lintas-iman. Muslim atau bukan, suka atau tidak, pasti berada dalam jejaring politik, entah sebagai subjek atau objek.

Membujuk Muslimin agar tidak atau, lebih jauh lagi, menghambat mereka secara keras atau lunak dari berpolitik sesuai ajaran agamanya tidaklah fair, agaknya seperti kecurangan Commodus dengan melemahkan Maximus sebelum berlaga, atau ingin menang tanpa mau bertarung, walaupun faktanya, seperti diratapi Abed Al-Jabiri, cendikiawan Maroko, umat Islam abad ini hanya puas jadi objek (mawdhu’).

Baca setelahnya: QS. Al-Ra’d [13]: 17; Mana Posisi dan Partai Anda? (2) Politik Munafik dan Politisi Buih
Baca setelahnya: QS. Al-Ra’d [13]: 17; Mana Posisi dan Partai Anda? (3) Munafik Intelektual dan Pakar Buih
Baca setelahnya: QS. Al-Ra’d [13]: 17; Mana Posisi dan Partai Anda? (4) Kebenaran, Manusia Baja-Air dan Arus Bangsa

Namun, pertanyaan di atas memang terasa lebih krusial bila dikhususkan pada umat Islam. Hadi Hadawi membulatkan pandangan para ahli yang mengidentifikasi kuatnya orientasi umat Islam kepada politik dan kekuasaan karena ajaran Alquran. Will Durant, sejarawan peradaban terkemuka, dalam The Mansions of Philosophy, mencatatkan laporan PM Inggris, Lord Macaulay, di hadapan parlemen Inggris pada 1835 sepulangnya dari India yang saat itu masih berdaulat Islam:

“Saya sudah cukup lama menjelajahi India. Di sana saya tidak temukan satu orang mengendap-endap masuk atau mencuri … Pada hemat saya, kita tidak akan menaklukkan bangsa ini kecuali dengan menumbangkan pilar utamanya, yaitu pusaka spiritual dan kultural mereka.”

Macaulay memang tidak menyebut Alquran, tapi cukup mudah dibaca arahnya ke mana. Pusaka utama Muslimin ini dalam bahasa hadis sudah dikenal juga nama tsaqalain: dua hal yang paling berharga, dan Alquran adalah yang terutama di atas sunnah Nabi atau, dalam riwayat yang lebih banyak, ahlulbait Nabi.

Dalam Alquran, ada banyak ayat yang, secara langsung ataupuntidak, memberi arahan bagaimana mengelola hidup sosial dan berpolitik mulia. Satu di antaranya adalah ayat di bawah ini. Dengan gaya bahasa yang khas, ia membantu pembaca, setidaknya, waspada untuk tidak jadi objek politik kotor yang berwajah struktural ataupun kultural.

 

Dia (Allah) telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah sesuai ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat [juga] terdapat buih seperti [buih arus] itu. “Demikianlah Allah membuat perumpamaan (tentang) yang-benar dan yang-bathil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Tetapi yang bermanfaat bagi orang-orang maka akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan” (QS. Al-Ra’d [13]: 17).

Baca Juga :  Alquran Bertinta Emas Abad 18 di Palembang

 

Satu Ayat ini secara keseluruhan berbicara tentang kebenaran dan, lawannya, kebatilan. Di dalamnya juga Alquran, dengan gaya bahasa metaforis, mempolarisasi masyarakat berdasarkan nilai benar-salah ke dalam tiga partai utama. Penting untuk segera melihat di mana posisi sosial-politik kita berada.

1. Kebenaran dan kebatilan itu sudah jelas, “Sungguh telah nyata-beda kebenaran dari kesesatan” (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Dua jalan kontradiktif ini sudah bisa dilihat dengan fitrah, akal dan keterangan wahyu. Tinggal setiap orang berada di jalan mana, itu pilihan masing-masing, “Tidak ada pemaksaan dalam agama” (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Tentu saja, setiap orang akan dan harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

2. Kendati demikian, Alquran memberi keterangan maksimal akan pentingnya kebenaran. Selain pola ekspresi deklaratif dan normatif, melalui ayat di atas, Alquran mengunakan bahasa perumpamaan dan perbandingan metaforis. Kebenaran seperti arus air yang mengalir deras, menghidupkan tanah akal tandus dan aula kering hati manusia dan, sebagai arus, air itu sekaligus membawa mereka ke muara (tujuan).

3. Sepanjang arus, air “kebenaran” mengalir, mengjangkau dan menyentuh siapa saja tanpa pandang bulu. Seperti matahari, Alquran memancarkan cahaya kepada siapa saja, “petunjuk bagi manusia” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) sehingga ruh, hati dan pikiran mereka dapat hidup (AS. Al-Anfal [8]: 24). Alquran dan air kebenaran memberi cahaya penerang dan cairan pembersih kepada siapa saja. Ini tidak berarti semua orang pasti menerima dan mendapatkan cahaya berian Alquran. Orang-orang berbeda sikap dalam merespon kebenaran.

4. Dalam aliran arus air, manusia terpecah dalam tiga partai: ikut bersama arus, melawan arus, atau tidak bersama juga tidak melawan, tetapi terbawa seolah-olah bersama arus. Artinya, dalam menghadapi arus deras air banjir, setiap kita punya satu dari tiga pilihan ini:

  1. Bertahan dan melawan arus; atau
  2. Tidak melawan, tetapi terpaksa dan dengan berat hati ikut terbawa arus air yang datang; atau
  3. Menunggu dan menyambut kedatangan arus air dengan senang hati untuk timbul-tenggelam, larut dan bergerak bersama arus mencapai tujuan utama: samudera kebenaran.

5. Ayat ini tidak menyinggung partai dan pilihan pertama, mungkin saking jelas dan mudah identifikasinya, yaitu orang-orang kafir yang terus terang menentang dan terang-terangan melawan kebenaran dengan kesadaran dan kesombongan.

سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَإِن يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُوا۟ عَنْهَا غَٰفِلِينَ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda-Ku. Mereka jika melihat setiap ayat (tanda) tidak beriman padanya. Dan jika mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika melihat jalan kesesatan, mereka malah menempuhnya. Demikian itu adalah karena mereka mendustakan tanda-tanda Kami dan mereka selalu lalai darinya” (QS. Al-A’raf [7]: 146).

6. Ayat di atas hanya menyinggung dua partai: mereka yang terpaksa dengan berat hati berada dalam dan terbawa arus kebenaran (manusia buih), dan orang-orang yang dengan sepenuh hati menyambut dan aktif bersama arus kebenaran (manusia baja-air).

Baca Juga :  Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an: Neraca dalam Tafsir Alquran, Karya Thabathaba'i

7. Ayat ini selanjutnya lebih terfokus pada partai kedua yang terpaksa hidup dan bergerak bersama arus kebenaran. Partai ini, dibanding partai pertama, lebih penting; lebih misterius, lebih kejam, lebih halus dan bulus hingga dari dalam merasuki dan mengendap di nalar serta emosi partai ketiga, orang-orang beriman.

8. Dalam ayat ini, partai pertama ini tak ubahnya dengan buih arus. Coba kita bayangkan wujud buih yang ada di air dan apa nilainya dalam arus air.

9. Buih adalah gelembung-gelembung kecil di permukaan air. Ia muncul di permukaan karena ada gejala resistensi dan perlawanan di dalam arus. Dari sini saja sudah tampak jelas kesamaan buih dan partai kedua yang terpaksa bersama arus kebenaran. Kalau buih itu muncul akibat gejala resistensi dari dalam arus, orang-orang dalam partai ini juga memendam resistensi dan perlawanan dari dalam batin mereka terhadap kebenaran, sehingga mereka dalam batinnya merasa tersiksa karena terpaksa secara lahiriah berada dalam partai ketiga dan harus terus menerus menyesuaikan diri untuk menjaga diri tampil seperti orang-orang di partai itu.

10. Buih tidak akan muncul dari air yang deras, lancar dan mulus mengalir. Seperti juga buih-buih ombak akan tampak dari gelombang air laut. Ada faktor negatif yang membuat ketidakutuhan, ketidaksenyawaan, ketidaksenapasan dengan arus air kebenaran hingga muncullah sosok-sosok yang berjiwa buih.

11. Buih dalam arus air adalah minoritas dalam mayoritas. Sedikitnya manusia-manusia buih, bila diremehkan atau tidak terantisipasi, akan berdampak lebih buruk dari partai penentang kebenaran. Kebenaran mayoritas bisa dikalahkan dengan kebatilan minoritas, seperti kualitas (kebenaran atau kebatilan) akan mengalahkan kuantitas.

KEBENARAN TAK TERTATA AKAN DITAKLUKKAN OLEH KEBATILAN TERTATA–Khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

12. Orang yang diam-diam menyimpan perlawanan dan ketidaksudian bersama kebenaran dan orang-orang yang benar adalah buih-buih yang hanya bersama arus kebenaran secara lahiriah, namun melawan kebenaran secara batin. Dalam bahasa Alquran, orang dengan mental seperti itu adalah munafik, hipokrit, berwajah ganda, bermuka topeng.

13. Seperti buih di permukaan arus, manusia buih hanya hidup dan bergerak di permukaan dan lapisan luar masyarakat kebenaran. Kontribusinya artifisial, sementara, tidak mengakar, tidak merembas sampai ke batin dan, karena itu, rapuh dan cepat lenyap. Mengapa? Karena dia sendiri rapuh, tidak yakin dengan sikapnya sendiri, batinnya terpaksa, tertekan dan tersiksa.

إِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya” (Al-Taubah [9]: 45).

14. Satu lagi, layaknya buih di permukaan arus, kelompok ini tidak bertahan bersama masyarakat kebenaran sampai tujuan. Mereka akan lenyap di tengah jalan dan, cepat atau lambat, akan tampak hidupnya sia-sia, tak berguna.

Baca Juga :  QS. Al-Ra'd [13]: 1; Semua Pemahaman itu Relatif? Allah saja Men-Share Kebenaran-Nya (2)

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakan, ‘Tidakkah kalain ingin Kami beritahukan orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya’” (QS. Al-Kahfi [18]: 103-104).

15. Logika orang munafik ialah memilih jadi buih itu akan menguntungkan dirinya. Dia berpikir telah mengambil pilihan terbaik dengan berada di bawah satu payung dengan satu bendera, satu suara dan satu langkah secara lahiriah, namun setengah jalan dan setengah hati bersama arus kebenaran. Hanya jadi sia-sia semua usaha dia tampil gigih, berada di barisan kebenaran dan keadilan, berteriak anti penindasan dan ketidakadilan.

16. Munafik, berwajah dua dan hipokrasi itu satu karakter yang multi-level dengan kakinya bermain di dua kelompok pertama dan ketiga: kafir dan beriman. Munafik tidak harus kafir. Muslim juga bisa jadi munafik, yakni hidup dengan tanda-tanda munafik, di antaranya berbohong, tidak tepat janji, tidak amanah.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوٰنِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتٰبِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكٰذِبُونَ
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta” (QS. Al-Hasyr [59]: 11).

TIGA TANDA MUNAFIK: JIKA BICARA BOHONG, JIKA BERJANJI TIDAK MENEPATI, JIKA DIBERI AMANAH BERKHIANAT–Nabi SAW (HS. Bukhari, hadis no. 32).

17. Oleh ayat ini, buih dipastikan lenyap dan hilang karena bukan sesuatu yang bernilai. Hakikat orang-orang munafik dan seperti munafik adalah sampah, seperti buih yang menghimpun sampah. Nilai dan kualitas hidup mereka hanyalah ampas yang tercampakkan sebelum akhirnya menjadi sampah yang mengotori kebeningan masyarakat kebenaran.

18. Banyak ayat bahkan satu surah penuh berbicara lahir-batin kelompok munafik. Ayat ini juga mendorong agar membangun bashirah politik; pandai-pandai membaca situasi, posisi serta peta sosial agar mengantisipasi dan terlindung sekaligus membersihkan kehidupan ruh diri sendiri, ruh berbangsa dan bernegara dari kotoran kebodohan, dan kemunafikan yang lebih lembut dari napas yang kita tarik, lebih misterius dari serangan corona, tidak kurang culasnya dari praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.[Bersambung]

Baca setelahnya: QS. Al-Ra’d [13]: 17; Mana Posisi dan Partai Anda? (2) Politik Munafik dan Politisi Buih
Baca setelahnya: QS. Al-Ra’d [13]: 17; Mana Posisi dan Partai Anda? (3) Munafik Intelektual dan Pakar Buih
Baca setelahnya: QS. Al-Ra’d [13]: 17; Mana Posisi dan Partai Anda? (4) Kebenaran, Manusia Baja-Air dan Arus Bangsa

 

Share Page

Close