• LAINYA

FILSAFAT-AGAMA—“Tuhan melawan virus Corona: kamu akan sembuh dari semua penyakit dan aku akan merawatmu”. Demikian bunyi tema yang dipilih seniman muda asal Italia, Giovanni Guida, untuk karya lukis surrealistiknya di bawah ini yang terbit pada Oktober, 2020.

PHOTO BY DANIELA MATARAZZO

Dalam ulasan Forbes (21/10/2021), lukisan Guida ini menayangkan drama suatu dunia dimana Tuhan digambarkan sebagai sosok seperti Zeus bersama representasif muda dari dua malaikat agung: Jibril dan Mikail, yang membantu Tuhan memerangi Coronavirus berbentuk bola berbintik abu-abu dan putih yang ada di mana-mana serupa dengan apa yang dilihat para ilmuwan mengintip COVID-19 di bawah mikroskop.

Dari temanya saja sudah dapat dimengerti posisi teologis Guida sebagai seniman beriman yang membela posisi Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahabaik dalam kecamuk pandemi dan virus Corona. Karya lukis itu juga sekaligus respon ofensifnya terhadap antusiasme, suka cita bahkan euforia hingga perayaan rahasia di kalangan ateis atas posisi teologis mereka yang terdukung untuk kesekian kalinya oleh sekian banyak korban jiwa akibat perilaku kejam Tuhan sebagai aktor kejahatan di dunia ini.

Perdebatan tentang ada-tidaknya Tuhan merupakan salah satu kontak dan konflik intelektual yang paling berbuntut panjang dan menegangkan antara orang beriman/beragama dan kaum ateis dengan beragam latar belakang: teologi, filsafat, fisika dan sains, sampai hari ini. Dalam diskursus Filsafat Agama, dapat dijumpai sederetan upaya kalangan teis beriman membangun berbagai argumen untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Sementara pengamat diskursus keagamaan sekaliber Michael Peterson dalam Reason & Religious Belief: An Introduction to the Philosophy of Religion, melaporkan tidak adanya argumen dari kalangan ateis untuk membuktikan klaim mereka bahwa Tuhan itu tidak ada. Yang mereka lakukan sejauh ini hanyalah menyanggah dan menyanggah argumen apa pun dari kalangan teis seperti yang tampak dalam sebuah karya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dari seorang ateis kondang Richard Dawkins, The God Delusion.

Salah satu sanggahan kaum ateis atas semua argumen keberadaan Tuhan adalah fenomena keburukan, kerusakan, kekacauan dan kejahatan di dunia. Peterson mentoleransi sanggahan ini sebagai argumen satu-satunya yang dirancang kaum ateis untuk membuktikan ketiadaan Tuhan sekaligus “the bunker of atheism” satu-satunya tempat perlindungan mereka dari serangan teis.

Baca Juga :  Realitas Manusia dalam Kebijaksanaan Luhur (2): Gerak Menyempurna

Di dalam negeri sendiri, Indonesia, pandemi dan virus Corona menjadi referensi terhangat yang turut mengkatalisasi perdebatan teologi pandemi sejak bulan-bulan pertama kemunculannya. Pengumaman masuknya virus Corona ke Indonesia pada 2 Maret 2020 nyaris bertepatan dengan Hari Ateis Sedunia yang ditetapkan satu tahun sebelumnya, tepatnya 23 Maret 2019. Sejak itu pula berbagai forum online dan tulisan seputar relasi ateisme dan ketuhanan bergitu cepat digelar dan terbit.

 

RUMUSAN ARGUMEN ATEIS

Benarkah Tuhan yang Mahabaik merancang bencana bagi manusia? Pertanyaan yang kelak dikenal dengan nama “The Problem of Evil” ini sudah muncul sejak zaman Yunani Kuno. Epikuros merumuskan kegelisahan ini pada 300 SM. Kalau Tuhan itu ada, dari manakah datangnya bencana? Kalau Ia sungguh-sungguh ada, Mahakuasa, Mahabaik, dan Mahatahu, mengapa Ia tidak campur tangan untuk mencegah berbagai pengalaman hidup yang buruk dan mengerikan itu? (Kleden, 2007).

Rumusan singkat argumen kejahatan di atas ini dapat dijabarkan berikut ini:

Dalam argumen orang-orang beriman, keberadaan Tuhan diyakini sebagai Realitas yang Mahakuasa dan Mahabaik. Namun, mereka suka atau tidak juga harus mengakui berbagai katastrofi, tragedi dan sekian fakta bencana alam dan kejahatan manusia di dunia ini yang dibuat oleh Tuhan itu sendiri. Maka, sekian banyak fakta dan fenomena kejahatan di dunia ini membuktikan adanya Tuhan yang tidak kuasa, tidak baik dan tidak bijak, tetapi tidak berdaya, mahajahat dan mahakejam.

Sepanjang era pamdemi 2 tahun ini saja, kasus COVID-19 di dunia hingga tulisan ini dibuat sudah mencapai 449 juta; 6 juta lebih di antaranya adalah korban jiwa. Tidak ada yang dapat memprediksi kapan dan di angka berapa korban jiwa itu akan berhenti. Jika Tuhan itu ada dengan segenap kebaikan dan kasih-Nya kepada umat manusia, maka semestinya tidak terjadi pandemi, tidak ada COVID-19, atau Dia dengan kekuasaan-Nya yang absolut tidak mampu menghentikan pandemi dan virus Corona sejak awal kali mewabah.

Baca Juga :  Visi Keperadaban Filsafat Muhammad Iqbal (2): Alquran Roh Agenda Perubahan

Adanya COVID-19 dan berlanjutnya pandemi serta segenap dampak multidimensi ekonomi, sosial dan politiknya, belum lagi konflik NATO dan Rusia yang berakibat pada perang di Ukraina hingga berdampak pada penyebaran kerugian multidimensi ke berbagai belahan dunia, membuktikan keberadaan Tuhan yang tidak hanya tidak kuasa, tidak bijaksana dan tidak baik, tetapi justru Dia impoten, kejam dan jahat. Keberadaan Tuhan yang seperti ini, bagi kaum beriman, sama artinya dengan ketiadaan-Nya.

Dengan cara demikian, kalangan ateis berusaha menunjukkan bahwa percaya pada keberadaan Tuhan yang Mahakuasa, Mahabijak dan Mahakasih adalah bertentangan kontradiktif dengan kenyataan dunia yang penuh dengan bencana, penderitaan, kesengsaraan, ketakberuntungan dan rekayasa kejahatan.

 

RESPON “TIDAK TAHU” DARI PEMIMPIN PARA FILOSOF

Kalangan beriman, terutama dari filosof, teolog dan sufi Muslim, menanggapi sanggahan ateis tadi dengan berbagai penjelasan. Pada intinya, orang beriman menerima bahwa penderitaan dan ketakberuntungan manusia di dunia ini adalah fakta nyata yang, betapapun keras dan kejamnya, tidak bertentangan dan menggugat kemahakuasaan dan kemahabaikan Tuhan. BERSAMBUNG

Share Page

Close