• LAINYA

FILAFAT–Seperti pada umumnya ateis, Flew juga membangun ateisme di atas pemikiran empirisisme. Francis Beckett menulis, “Bagi siswa yang dibesarkan untuk menerima pelajaran tanpa pertanyaan-pernyataan menteri agama, atau cenderung diterima secara mistik pada tahun 1960-an atau 70-an, atau tergoda oleh historisisme Marxisme, Tony Flew selalu sedikit mirip seember air dingin dilemparkan ke atasmu.

Dia sangat membenci pernyataan metafisik yang tidak jelas, dan suka melucuti argumen. “Bisakah kamu memukulnya dengan palu?” adalah pertanyaan yang dia luncurkan ketika dihadapkan pada konsep yang sangat abstrak.

Pengaruh intelektual paling utama pada Antony Flew dating dari filosof Era Pencerahan terkemuka, David Hume. Flew mengikuti Hume baik dalam kritik empirisnya terhadap Teeologi Natural dan juga, sampai batas tertentu, dalam kecenderungan politiknya. Buku keduanya, Hume’s Philosophy of Belief (1961), memberikan kontribusi besar bagi pemikiran Hume.

Buku itu didahului oleh karyanya, A New Approach to Psychical Research (1953). Pada hemat Flew, pendekatan bahasa dan logika dari filosof analitik tidak menghalangi pemeriksaan atas pertanyaan-pertanyaan yang paling spekulatif.

Namun, buku terakhirnya, There Is a God: How the World’s Most Notorious Atheist Changed His Mind (bersama Roy Abraham Varghese, 2007), Flew menunjukkan perubahan dalam pandangannya selama dekade terakhir, meremehkan posisi yang telah dia pertahankan saat menduduki jabatan akademik universitas di Inggris, Skotlandia dan Amerika Utara.

Flew telah menjadi begitu terkenal bagi satu generasi mahasiswa sebagai seorang filosof ateis. Sebaliknya, banyak kekecewaan ayahnya, seorang pendeta Metodis, yang telah mendoakannya setiap hari.

Dalam sebuah esai awal yang sangat penting, Theology and Falsification (1950), Flew mencoba menunjukkan bahwa hipotesis tentang Tuhan yang Mahakuasa dan penuh kasih tidak dapat dipastikan dan, oleh karena itu, tidak berarti apa-apa.

Baca Juga :  Pandemi dan Argumen Ateis atas Ketiadaan Tuhan (1): Rumusan Argumen

Mengacu pada “kejahatan endemic” dalam teologi, Flew mengatakan bahwa, betapapun mengerikannya dunia, orang-orang religius terus percaya pada tuhan yang Mahakuasa dan Mahakasih. Tapi kemudian, bagaimana bisa ada bukti yang berarti atas keberadaan Tuhan? Jadi, teisme mengalami “kematian karena seribu kualifikasi”.

Ide-ide ini dikembangkan dalam God and Philosophy (1966), yang berisi upaya menghancurkan wahyu, khususnya mukjizat. Namun demikian, Flew tampak terpesona oleh kemungkinan bukti empiris yang menguntungkan klaim teologis dan mempertahankan kecenderungan skeptis tidak hanya pada dugaan mukjizat tetapi juga fenomena paranormal secara umum.

Flew terutama dikenal sebagai kritikus yang gigih menentang keyakinan akan kehidupan setelah kematian dengan klaim dalam banyak karyanya bahwa kelangsungan hidup setelah kematian tidak mungkin terjadi.

Oleh karena itu, beberapa teman humanis Flew terkejut ketika pada tahun 2004, dia mengaku berubah pikiran jadi percaya Tuhan. Dia mengumumkan dalam video berjudul Has Science Discovered God?, bahwa aspek tatanan biologis, terutama dalam DNA, telah membuatnya percaya pada Desain Cerdas, kendati dia masih tidak percaya pada agama dan keabadian.

Di balik itu, Flew rupa-rupanya menyimpan keresahan. Dia lantas mengungkapkan keprihatinannya tentang kekacauan yang bisa ditimbulkan oleh tulisannya tentang perubahan pikirannya itu.

Flew telah penulis produktif. Dia menghasilkan karya ilmiah dan umum, termasuk Introduction to Western Philosophy: Ideas and Argumet from Plato to Popper (1971), dua buku ringkas tentang pemikiran kritis dan banyak karya lain yang sering menggabungkan polemik dengan gaya filosofis.

Di antaranya adalah karya terakhirnya, Crime or Disease? (1973). Karya ini merupakan serangan terhadap konsepsi modern tentang kejahatan. Karya lainnya adalah The Politics of Procrustes (1981), sebagai kritik tajam terhadap teori Politik Egaliter. Dia dengan tegas membela hak pilihan bebas manusia, meskipun dia akhirnya melepaskan keyakinan Humean sebelumnya bahwa kehendak bebas adalah kompatibel dengan determinisme.

Baca Juga :  Pandemi dan Argumen Ateis atas Ketiadaan Tuhan (2): Respon “Tidak Tahu” dari Pemimpin Para Filosof

Lahir di London, Flew terdidik di sekolah St Faith, Cambridge, dan sekolah Kingswood, Bath. Selama Perang Dunia II, dia belajar bahasa Jepang di School of Oriental and African Studies di London dan melakukan pekerjaan intelijen dengan RAF.

Studi klasiknya di St John’s College, Oxford, termasuk filsafat klasik, dan kontak dengan pembela Kristen CS Lewis membantunya mempertahankan minatnya pada Filsafat Agama, meskipun keyakinannya sendiri telah hilang selama masa remajanya.

Flew mengajar sebentar di Christ Church (1949-50), dan, setelah bertugas di Aberdeen (1950-54), adalah salah satu pelopor yang pergi ke University College of North Staffordshire (sekarang Keele), tetap sebagai profesor filsafat sampai 1971.

Setelah setahun di University of Calgary, Alberta (1972-73), Flew menjadi profesor di Reading University, dengan janji paruh waktu di York University, Toronto, dan Bowling Green State University, Ohio, setelah pensiun sebagai profesor emeritus pada tahun 1983.

Sebagian dari pemikiran Flew dipengaruhi oleh guru awalnya, khususnya Gilbert Ryle. Humanisme lamanya tercermin dalam keterlibatannya dengan organisasi seperti Rationalist Press Association. Dia membenci etos egaliter progresif di akhir 1960-an dan 70-an, mendukung Perang Dingin.

Seorang mantan kolega Flew di Keele menggambarkan bagaimana dia pernah secara tegas dilarang mengubah seminar menjadi unjuk rasa politik. Pada tahun 1970-an ia menulis untuk membela seorang psikolog Amerika, Arthur Jensen, yang telah dituduh melakukan rasisme karena menyatakan bahwa faktor genetik mungkin menjadi penyebab perbedaan IQ antara orang kulit hitam dan kulit putih.

Flew menentang rasisme tetapi sering menulis mengutuk gejala-gejala intoleransi yang dia lihat dalam banyak ideologi anti-rasis dan multikultural. Paradoksnya, banyak dari apa yang dengan berani dia katakan sekarang telah menjadi cukup dihormati dan dipertimbangkan.

Baca Juga :  Cinta dan Kehidupan Pasca Kematian dalam Pancasila

Banyak mantan kolega dan mahasiswa mengingat nama Flew dengan sangat hormat. Seseorang mengakuinya memiliki prinsip dan standar tinggi, selalu mengikuti argumen ke mana mereka membawanya. Seorang lainnya, yang saat itu menjadi dosen pemula di Keele, mencatat manfaatnya, terlepas dari perbedaan politik.

Seorang mantan siswa mengenang bagaimana, pada tahun 1962, Flew membentak di kelas filsafat yang membingungkan bahwa “Seks adalah hal yang sangat berbahaya”, hanya karena kuatir hal itu akan mengganggu belajar.

Tetapi pandangannya tentang aborsi dan reformasi hukum homoseksual tampak liberal. Dia adalah seorang kritikus yang tajam terhadap ajaran gereja Katolik Roma tentang kontrasepsi.

Memang konservatisme Flew memiliki corak libertarian yang kuat, meskipun mungkin dia kemudian menyesali beberapa efek sosial yang dihasilkan. Dia juga seorang penentang kuat integrasi Eropa. Dengan bangga dia menyatakan dirinya sebagai “subjek Yang Mulia, bukan warga negara Eropa”.

Kegigihannya yang konsisten untuk mencapai kebenaran dan kesediaannya untuk berubah pikiran tampak menonjol seperti dalam mengubah keyakinannya menjadi beriman pada Tuhan.

Di awal masa mudanya, Flew pernah menjadi simpatisan komunis sebelum menjadi seorang Konservatif. Ini menandai dirinya sebagai pemilik integritas yang kokoh.[dari TheGuardian]

Share Page

Close