• LAINYA

ETIKA-SOSIAL–Pernah marah, bukan? Tentu setiap orang punya pengalaman marah; marah pada orang lain, pada masyarakat, pada keadaan, bahkan pada diri sendiri. Selembut, setenang dan pendiam apa pun orang itu, dia pasti mengalami marah dengan cara tertentu, entah secara terus terang atau dipendam.

Belakangan, tidak sedikit dijumpai orang marah sampai berakibat fatal: tidak hanya memutus hubungan pertemanan, persaudaraan, pekerjaan, pengajian dan pembelajaran, bahkan sampai menghilangkan hak hidup istri dan anak sendiri. Karena faktor marah juga bahkan pemuka agama tak segan-segan menunjukkan kemarahan. Belakangan warga tidak sekali menyaksikan pejabat publik, dari kepala daerah hingga kepala negara, tampil marah bahkan marah-marah.

Manusia sempurna pun demikian. Dalam beberapa riwayat, Nabi SAW disebutkan marah. Pencipta Alam yang Mahakasih dan Maha Pengasih juga menyatakan kemarahan-Nya dalam Alquran. Apakah lantas nilai marah mereka itu sama? Tentu saja, tidak. Tidak ada salahnya marah tepat sasaran, pada tempatnya: marah yang adil dan beradab.

Ekspresi marah juga tidak sama, tetapi banyak caranya, mulai dari membatin, menggerutu, jengkel, kesal, ambek, sewot, membentak, mengata-ngatai, menyinyir, memfitnah, hingga mengamuk, banting barang sampai membunuh orang atau malah bunuh diri.

Perlu juga segera dicatat, marah kerap diluapkan dengan cara-cara yang sesungguhnya mempermalukan diri sendiri; orang marah entah sadar atau tidak kerap melakukan tindakan yang mempertontohkan cara-cara buruk itu. Mempermalukan diri sendiri adalah cara terburuk dari bunuh diri; tetap hidup tanpa harkat, tanpa martabat, tanpa harga diri. Tandanya, ada rasa menyesal setelah marah lalu berpikir, “Ah, andai saja aku tadi sabar dan tidak marah!”

MARAH MENGHANCURKAN DIRI PEMARAH DAN MENAMPAKKAN AIB SENDIRI–Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.

Marah juga indikator kepribadian dan karakter seseorang. Ingin tahu wajah asli batin diri sendiri dan seseorang, cukup menyadari diri bagaimana keadaannya berada dalam kondisi marah; apakah terbawa marah atau tidak, dan bagaimana diri ini mengekspresikan marahnya.

Baca Juga :  Mengenal Tafsir Sufistik-Filosofis Surat Al-Fatihah, Karya Mulla Sadra (2): Isti’adzah, Analisis Aklani (1)

Umumnya, marah dikategorikan sebagai sifat buruk dan sumber keburukan. Karena itu pula, tidak ada yang suka disebut “pemarah”, “marahan”, “ambekan”, “sensi”, “tersinggungan”, dan “temperamen”, apalagi “ngamukan”. Dalam pandangan orang pada umumnya, marah dan sederet kata-kata ini berkonotasi jelek.

Tapi, perlu kiranya ditinjau kembali: benarkah setiap marah itu buruk dan negatif?
Mungkinkah marah bisa positif?
Dalam keadaan apa marah itu justru baik dan perlu?
Pada dasarnya, marah itu sendiri apa?
Apa saja macam-macam marah?
Lalu bagaimana mengendalikan marah, tidak malah dikendalikan marah?
Bagaimana marah yang adil dan beradab itu?

 

MARAH DALAM AYAT DAN HADIS
Dalam Alquran, ada setidaknya 15 ayat yang menyatakan Allah marah. Ini dapat ditelusuri melalui dua akar kata Arab: ghadhiba (marah) dan sakhitha (murka). Belum lagi bila memasukkan kata laknat Allah, maka jumlahnya bisa lebih banyak lagi.

Beberapa nabi seperti Nabi Musa (QS. Al-A’raf [7]: 150, QS. Thaha [20]: 86) dan Nabi Yunus (QS. Al-Anbiya’ [21]: 87), juga digambarkan marah. Tampaknya Nabi SAW juga marah dan kecewa terhadap sahabat pasca kekalahan di perang Uhud sehingga diingatkan agar marah dan kecewa beliau tidak sampai membuatnya bersikap keras dan berhati kasar terhadap sahabat (QS. Al Imran [3]: 159). Marah Allah dan rasul-Nya sepertinya tampak dalam surah Al-Taubah, surat yang dinamai juga dengan surat Bara’ah (berlepas diri).

Di jantung dan induknya Alquran saja, yakni surat Al-Fatihah, kata marah sudah muncul. Di akhir surat termulia itu, Allah memberikan dua kriteria manusia yang diberi nikmat karunia dan penuntun jalan yang lurus (shirat mustaqim): (a) bukan yang dimarahi Allah (maghdhub) dan (b) bukan yang sesat (dhallin).

Baca Juga :  Perangi Pemikiran Sayyid Qutb, Mufti Agung Mesir Desak Al-Azhar Batalkan Sidang Promosi Mahasiswi Doktoral

Dalam sebuah ayat, Allah memerintahkan agar orang beriman tidak berteman dan berpihak pada orang-orang yang dimurkai Allah (QS. Al-Mumtahanah [60]: 13). Orang dimurkai tuannya bila melakukan kesalahan tertentu, yaitu kesalahan yang dilakukan atas dasar pengetahuan dan dengan maksud buruk. Allah tentu tidak marah terhadap hamba yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan atau dengan maksud baik.

Sementara hadis dari Nabi SAW cukup melimpah; dengan beragam aksentuasi dan redaksi, beliau menerangkan nilai, relasi dan dimensi marah. Beberapa di antaranya dikemukakan oleh Imam Ghazali dalam buku induknya, Ihya’ Ulum Al-Din, Bagian Keempat tentang Hal-hal Penghancur (al-muhlikat). Berikut ini sekelumit bagian pembuka bab tersebut:

“Allah Yang Mahakuasa berfirman, “Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang beriman ….” (QS. Al-Fath [48]: 26). Allah mengecam orang-orang kafir karena bertingkah sombong yang berasal dari kemarahan secara salah kaprah. Lalu Allah memuji orang-orang beriman atas ketenangan yang diturunkan Allah kepada mereka.

“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seorang lelaki meminta nasihat, “Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku suatu perbuatan, tetapi jangan banyak-banyak!”. Beliau berkata, “Jangan marah!” Lelaki itu mengulang permintaan. Beliau juga Kembali berkata, “Jangan marah!”

“Ibnu Umar berkata, Aku berkata kepada Rasulullah SAW, “Katakan kepadaku suatu pesan, tetapi jangan banyak-banyak agar aku selalu mengingatnya!” Beliau berkata, “Jangan marah!” Aku ulangi permintaanku dua kali, beliau tetap menjawab, ‘Jangan marah!” “Masih dari Ibn Umar, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apa yang bisa menyelamatkan aku dari kemarahan Allah?” Beliau menjawab, “Jangan marah!”

“Ibnu Mas’ud berkata, “Nabi SAW bertanya, “Menurut kalian, apa keperkasaan itu?” Kami menjawab, “Yaitu orang yang tahan banting di hadapan orang kuat.” Nabi bersabda, “ Bukan itu, tetapi dialah oang yang menguasai dirinya dalam keadaan marah.”

Baca Juga :  Filsafat Maulid Nabi: Merayakan Kemanusiaan atau Kebinatangan Diri Sendiri

“Abu Hurairah berkata, “Nabi SAW bersabda, “Orang perkasa itu bukan dengan membanting orang lain. Orang perkasa sesungguhnya manusia yang mengendalikan dirinya dalam keadaan marah.”

“Ibnu Umar berkata, “Nabi SAW bersabda, “Orang yang menahan marahnya pasti Allah akan menyembunyikan aib dirinya.”

“Nabi Sulaiman putra Dawud a.s. berkata, “Anakmu! Hati-hati dengan marah dan banyak marah! Karena banyak marah akan membuat ringan hati orang yang berjiwa besar.”

“Dari Ikrimah tentang firman Allah SWT, “… menjadi pemimpin dan penahan-diri” (QS. Al Imran [3]: 39), ia berkata, “Pemimpin yaitu orang yang tidak dikuasai oleh marah.”

“Abu Darda berkata, “Aku bertanya, “Ya Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang akan membawaku ke surga!” Beliau bersabda, “Jangan marah!”

“Nabi Yahya a.s. menasihati Nabi Isa a.s., “Jangan marah!” Nabi Isa berkata, “Aku tidak sanggup untuk tidak marah. Aku ini manusia.” Yahya melanjutkan, “Jangan mengumpulkan harta!” “Ini bisa aku lakukan”, jawab Isa a.s.

“Seorang sahabat bertanya kepada Nabi SAW, “Apa yang paling berat bagi diriku?” Beliau menjawab, “Kemarahan Allah.” Dia bertanya lagi, “Lalu, apa yang menjauhkan aku dari kemarahan Allah?” Nabi SAW bersabda, “Jangan marah!” Bersambung

Share Page

Close