• LAINYA

TERMINOLOGI–Para mufassir mengadopsi metode beragam dalam menangani ayat mutasyabih. Mulla Shadra, misalnya, dalam sebuah risalah, Mutasyabihat Al-Qur’an, mengemukakan empat metode menafsirkan ayat mutasyabih.[7]

Metode literalisme yang lazim dianut oleh ahli hadis dan pengikut Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih harus dimaknai sesuai makna lahiriahnya, yakni seusai teks ayat itu berbunyi. Maka, tidak dibenarkan memaknai ayat-ayat ini secara bertentangan dengan makna lahiriah. Makna lahiriah dan literal ayat mutasyabih harus tetap dipertahankan meskipun bertentangan dengan kaidah akal. Sesuai pandangan ini, setiap jenis takwil dianggap salah dan terlarang.

Metode mayoritas mutakallim mazhab Muktazilah, sebaliknya, memperbolehkan bahkan mengharuskan takwil atas ayat mutasyabih agar sesuai sesuai dengan kaidah-kaidah logis dan hukum-hukum akal. Salah satu argumen mereka ialah ketaksesuaian dengan hukum akal adalah kekurangan, dan Allah SWT terbebas dari segala sifat kekurangan.

Sementara mayoritas mazhab Asy’ariyah dan sebagian pengikut Muktazilah mengambil metode tafshil dalam memahami teks agama yang mutasyabih. Pada sebagian ayat dan riwayat, mereka menggunakan pola tanzih (mensucikan Tuhan dari sifat-sifat makhluk) dan pada sebagian ayat dan riwayat lainnya, mereka menggunakan pola tasybih, yakni menyerupakan Allah dengan sifat makhluk. Ayat-ayat yang berkaitan dengan Hari Kiamat, misalnya, dimaknai sesuai dengan makna lahiriahnya dengan menerapkan metode tasybih.

ILMU TENTANG GHAIB HANYA DI ADA PADA ALLAH, NAMUN DIA JUGA MEMBUKAKAN GAIB KEPADA MANUSIA YANG DIA RIDHAI.

Masih dalam pemetaan metode penafsiran ayat mutasyabih, Mulla Sadra menyinggung metode kaum arif. Mereka memahami makna dari ayat-ayat mutasyabih melalui penyaksian ruhani (syuhud) dan penyingkapan batin (kasyaf).

Mereka berusaha berimbang tidak semata-mata tanzih juga hanya tasybih, tetapi mengkomodasi dan mengkombinasikan keduanya. Penyingkapan makna ayat-ayat mutasyabih bisa dilakukan melalui menyucian batin dan pencerahan hati dari sumber kenabian.

Baca Juga :  Kisah Alquran (1): Pernikahan Dramatis di Balik Pembunuhan Terheboh

Metode ini tidak mendorong manusia kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan sifat-sifat makhluk) juga tidak kepada ta’thil (menolak daya akal dalam mengenal Allah), juga tidak kepada takwil, yakni memaknai suatu teks suci hingga berlawanan dengan makna lahiriahnya.

METODE MENAFSIRKAN AYAT MUTASYABIH
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Barangsiapa merujukkan ayat mutasyabih Alquran kepada ayat muhkam, maka ia benar-benar ditunjukkan ke jalan yang lurus.”[8] Dalam riwayat juga disebutkan bahwa banyak riwayat-riwayat mutasyabih seperti ayat-ayat mutasyabih Alquran yang harus dirujukkan penjelasannya ke riwayat yang muhkam maknanya.[9]

Satu hal penting ialah semua ayat Alquran dapat diketahui maknanya. Ayat-ayat mutasyabih juga dapat diketahui maknanya, yaitu dengan merujuk ayat-ayat muhkam. Kaidah pemaknaan ini tentu saja berseberangan dengan kalangan yang menganggap bahwa ayat mutasyabih tidak diketahui maknanya kecuali Allah SWT.[10]

TENTANG MAKNA “RASHIKUNA FI AL-ILM
Terkait topik muhkam dan mutasyabih, pembahasan penting berlangsung di antara para peneliti tentang lanjutan ayat QS. Al Imran [3]: 7, “Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang kokoh dalam ilmu [mereka] berkata, ‘Kami beriman, semua dari sisi Tuhan kami“.

Jika di ayat ini frasa “orang-orang yang kokoh dalam ilmu” dihubungkan sebagai lanjutan (‘athaf) dari kalimat sebelumnya: “dan tidak ada yang tahu takwilnya kecuali Allah”, maka “orang-orang yang kokoh ilmu” sesungguhnya mampu memahami kandungan ayat mutasyabih.

Namun jika frasa itu dianggap sebagai kalimat baru dan tidak kembali ke kalimat sebelumnya, maka ia bermakna orang yang tidak mampu memahami makna ayat mutasyabih, sehingga mereka hanya dapat mengatakan, “Kami beriman, semua dari sisi Tuhan kami”.

Sebagian besar meyakini bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui makna sebenarnya ayat mutasyabih. Ketika menafsirkan ayat ini, mereka mengharuskan kita untuk berhenti dari memaknai ayat mutasyabih, sebagaimana orang-orang yang kokoh ilmunya, terkait takwil Alquran, hanya bisa mengatakan bahwa kami beriman dan percaya.[11]

Baca Juga :  Al-Quran, Filsafat Ijtihad dan Pemahaman Kontekstual (Bagian Terakhir)

Namun, sebagian besar ulama [12] meyakini kalimat “orang-orang yang kokoh ilmunya” merupakan lanjutan (athaf) dari kalimat sebelumnya, sehingga mereka orang-orang itu diberi oleh Allah kemampuan memahami ayat mutasyabih.

Argumennya, jika ilmu orang-orang yang kokoh itu sama dengan orang biasa dan tidak mengetahui takwil, maka pengagungan Alquran atas “orang-orang yang kokoh ilmunya” itu tidak berati apa-apa.

Setidaknya, Nabi adalah orang yang paling kokoh ilmunya, demikian pula sebagian sahabatnya seperti: Ali bin Abi Thalib yang, dalam hadis, disebut sebagai gerbang ilmunya. Artinya, ilmu tentang hal-hal gaib hanya di “tangan” Allah, namun Allah juga membukakan pintu gaib kepada orang-orang yang diridhainya:

عالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ
“[Allah] Maha mengetahui yang-gaib, maka Dia tidak membuat seorang pun tahu tentang gaib-Nya kecuali orang yang Dia ridhai yaitu rasul” (QS. Al-Jinn [72]: 26-27).

 

Referensi
Ayyazi, Sayid Muhammad Ali: Qur’an Atsari Jawidan (1423 H).
Kashani, Abdurrazaq: Nawādiru al-Akhbār fi Ma Yata’allaqu bi Ushuli al-Din  (1413 H).
Bahrani: Mabāhits fi Ulumil Qur’an, (1433 H).
Qadhi Abdul Jabbar: al-Mughni fi Abwab al-Tawhid wa al-‘Adl, (1986).
Qatthan, Manna’: Mabāhits fi Ulumil Qur’an, Muassasah al-Risalah, (1421 H).
Syirazi, Shadrul Muta’allihin (Mulla Shadra): Mutasyabihat al-Qur’an (1436 H).
Shalih, Subhi: Mabāhits fi Ulumil Qur’an (1414 H).
Zarkasyi: al-Burhān fi Ulumil Qur’an, Beirut, Dar al-Ma’rifah (1998).

Share Page

Close