• LAINYA

SAINS-ALQURAN–Bukan asing lagi kalau ada yang bilang, “dikadalin!” Ini untuk orang yang kebetulan kurang beruntung; jadi korban pembodohan dan penipuan. Kata “kambinghitam” juga sudah lazim didengar untuk orang yang dipersalahkan dan dikriminalisasi. Apa hubungannya dengan kadal dan kambimh ? Apa salahnya kadal dan kambing?

Di kota, sulit menemukan kadal selain manusia-manusia kadal. Ya, setidaknya, sebagian jenis kadal punya kepandaian memperdaya lawan dengan cara berganti rupa warna, menyaru dengan situasi sekitar. Begitulah kadal membuat pesan hoax.

Dalam Alquran dikisahkan pengalaman Nabi Sulaiman a.s., penguasa bahasa burung, dengan burung Hudhud. Setelah menyimak laporan burung ini tentang Ratu Balqis dan bangsanya di negeri Saba (Yaman), Sulaiman a.s. mengatakan, Akan kami lihat apakah kamu jujur atau berdusta.

Potensi dan keterampilan memproduksi hoax bukan keistimewaan manusia. Para peneliti menemukan perilaku tipu-tipu ini juga ada pada sejumlah spesies binatang seperti: ular dan, tentu saja, kadal. Ulah seperti ini juga diperagakan kodok, hiu, ikan-ikan di dasar laut, tupai untuk mengamankan makanannya, dan laba-laba betina agar tidak dikawin laba-laba jantan.

Dalam sebuah rekaman video di salah satu negeri Arab, seorang lelaki mengejar-ngejar seekor anak kambing di Hari Raya Kurban. Beberapa kali anak kambing itu beberapa kali menjatuhkan dirinya. acapkali diangkat, dia tampak sudah tak berdaya, lehernya yang panjang itu lunglai, tak beda dengan kambing yang sudah mati.

Pada umumnya, binatang-binatang ini kerap membuat peristiwa hoax dengan cara berpura-pura mati atau jadi benda mati. Dibandingkan manusia, mereka berulah begitu hanya dalam keadaan terdesak dan terancam bahaya. Tapi ada orang-orang yang justru bersemangat membuat dan menyebar hoax di ruang yang nyaman.

Baca Juga :  Fakta Saintis Alquran: jangankan Manusia, Binatang saja sudah Bisa Membodohi

Belakangan, seperti dilaporkan Dailymail, para peneliti berhasil mengidentifikasi gejala hoax yang lebih serius dan lihai pada 24 spesies binatang mamalia. Dalam sebuah penelitian ekstensif, mereka melatih seekor gorilla bernama Coco Gorollil sampai berhasil menguasai 1000 kata.

Kemudian, uniknya, manakala sudah tidak ada penjaga, gorilla ini merusak kandang lalu, tatkala penjaga datang, dia menunjuk ke arah anak gorilla. Dia berhasil membuat hoax untuk menipu penjaga, menimpakan ulahnya pada yang lain. Kemungkinan pola hoax seperti ini dilakukan secara koalisi dan berjamaah cukup tinggi.

Dalam Alquran dikisahkan pengalaman Nabi Sulaiman, penguasa bahasa burung, berdialog dengan burung Hudhud. Artinya, burung juga bisa berbicara dan, barangkali, itu menjadi alat yang juga bisa digunakan untuk memproduksi pola-pola komunikasi hoax.

Setelah menyimak laporan Hudhud tentang Ratu Balqis dan bangsanya di negeri Saba (Yaman), Nabi Sulaiman a.s. berkata, Dia berkata, ‘Akan kami lihat, apakah kamu benar atau termasuk yang berdusta’” (QS. Al-Naml [27]: 27). Lantas, Nabi menguji kejujuran Hudhud untuk memastikan beritanya benar-benar bukan dusta atau hoax.

Kasus hoax kawanan ungkas yang paling gampang kita temukan pada ayam. Untuk menarik perhatian betina, ayam jantan peliharaan bisa mengeluarkan jenis suara tertentu saat menemukan makanan. Terkadang ayam tadi menipu dengan berkotek-kotek walaupun sesungguhnya mereka tak menemukan makanan. Ia berkotek hanya untuk memikat sehingga ayam betina mendekatinya.

Sejumlah spesies burung diketahui bisa mengelabui satu sama lain demi keuntungannya sendiri, dengan memanfaatkan sistem penjagaan berkelompok sebagai upaya penyelamatan, yaitu pada sebuah wilayah berpohon atau hutan yang banyak dihuni spesies burung berukuran sama dan sama-sama terancam kedatangan pemangsa seperti elang.

Burung-burung itu mengembangkan sebuah sistem penjagaan yang cerdas. Pada sistem ini, burung pertama yang melihat bahaya akan memberikan peringatan dengan menyuarakan kicauan tertentu yang biasanya ditulis sebagai ‘seet’. Bunyi kicauan ini bernada tinggi, lembut, pendek, serta dengan mudah dan jelas dipahami, tetapi sulit ditemukan sumbernya sehingga memperkecil risiko bahaya bagi penjaga tadi.

Baca Juga :  A Guide to the Good Life, Filsafat Kuno untuk Dunia Modern

Banyak burung pemakan tumbuhan, termasuk kutilang satu keluarga dengan burung pipit, dan jenis-jenis burung lainnya yang berukuran kecil, menggunakan kicauan ‘seet’ yang sama-sama dipahami oleh spesies burung berbeda sebagai sejenis ligua franca satwa. Saat mendengar kicauan ‘seet’ semua burung di wilayah itu akan meninggalkan kegiatannya, mencari tempat berlindung dan membisu.

Tetapi, sistem ini juga membuka peluang kecurangan. Pada hutan hujan Amazon, sekelompok burung kecil melakukan sistem penjagaan saat kelompok lainnya mengais-ngais sampah daun untuk mencari serangga lezat. Di sini, dua spesies burung sering bertindak sebagai penjaga: burung gelatik yang bekerja di bawah baying-bayang rimbunan pepohonan yang membentuk tudung hutan, dan kutilang yang bertugas mengawasi dan atas rimbunan tadi.

Karena menjalankan tugas penjagaan, kedua jenis burung tersebut tak punya waktu untuk mencari makan sehingga burung-burung lain menghadiahinya dengan membiarkan mereka memakan serangga yang ditemukan.

Walaupun begitu, terkadang sang penjaga akan menipu mereka; jika burung penjaga melihat serangga yang tampaknya lezat sedang digali, ia akan berpura-pura meneriakkan peringatan, padahal sesungguhnya tak ada bahaya. Burung-burung lain akan terbang melarikan diri sehingga si burung penjaga akan turun dan menyantap serangga tadi.

Alhasil, tidak ada yang mengkhawatirkan temuan-temuan ini kalau bukan justru lucu dan menggemaskan. Orang tidak akan takut ditelikung hanya oleh seekor ayam atau “dikadalin” oleh kadal dan kambing beneran.

Kelompok orang yang coba-coba atau terbiasa membuat dan menyebar hoax juga tidak perlu kuatir; selihai-lihainya binatang memperdaya, mengecoh dan mengambinghitamkan orang tidak akan mengalahkan keterampilan hoax dan kemunafikan manusia. Hanya ingat saja, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Kata Pepatah, “Busana dusta itu tipis.”

Baca Juga :  Isu Kalam Baru/New Theology (2): Akal di Kalangan Sufi

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf [7]: 179)

Dalam ayat ini, Alquran menderajatkan manusia yang tidak menggunakan alat-alat pengetahuannya (hati, akal, indra) tak beda bahkan lebih hina dari hewan ternak. Dapat dibayangkan betapa jauh lebih hina lagi orang-orang yang berpendidikan dan diberi kepercayaan malah menyalahgunakan ilmu serta otoritasnya untuk menipu, mengumbar janji, menguntungkan diri sendiri, partai dan kubunya.

Share Page

Close