• LAINYA

BilalAlqais–Tidak ada kekuatan regional atau bahkan global yang pernah menghadapi, melawan, atau mampu terus berkembang dan maju di hadapan Amerika Serikat (sebagai penguasa blok Barat). Jerman runtuh setelah dua dekade, dan Uni Soviet, pasca-polarisasi setelah Perang Dunia II, tidak mampu bertahan selama empat dekade sebelum akhirnya runtuh.

Kita sedang berbicara tentang jalan terjal penuh tantangan yang telah dihadapi Iran sejak kemenangan Revolusi Islam 1979, berbeda dengan pengalaman anti-Barat mana pun dalam sejarah. Tidak ada satu tahun pun berlalu tanpa ancaman, intimidasi, berbagai pembatasan dalam uji coba, blokade, distorsi, dan gelombang peperangan, baik dalam skala tinggi maupun rendah, yang melanda negara ini.

Meskipun demikian, Iran telah mempertahankan konsistensi dan cita-citanya, bergerak maju untuk menciptakan bipolaritas yang ideal sesuai dengan visinya; hingga hari ini Negeri Mullah itu telah menjadi salah satu dari sedikit kekuatan penting di dunia kontemporer, berdampingan dengan kekuatan-kekuatan global seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.

Poinnya di sini adalah kita sedang berbicara tentang sebuah negara di kawasan dengan basis geografis yang penting, yang nyaris menggenapi dekade kelima revolusinya namun tetap teguh, tangguh, ambisius, serta dinamis; sebuah sistem “Tidak Barat, Tidak Timur” yang sedang membangun model diplomatik, politik, intelektual, artistik, ilmiah, sosial, dan militer yang ideal, serta bertumpu pada dukungan bangsa sendiri.

Kita melihat Iran senantiasa membuat kemajuan dalam menghadapi berbagai tantangan, memiliki kegigihan, kemampuan bermanuver, menghadapi ancaman, bermain di tepi jurang (brinkmanship), melawan musuh, berperang, bernegosiasi, memaksakan syarat-syaratnya, menjaga kohesi nasional, meluncurkan satelitnya ke luar angkasa, serta bersaing di bidang kedokteran, teknik, sains, filsafat, sastra, seni, dan sinema.

Baca Juga :  Balada Cinta Istri Kepala Keamanan Raja dan Ajudan Tampan dalam Alquran (1): Kekerasan Perempuan terhadap Lelaki

Variabel-variabel penting ini memberikan pelajaran kepada dunia tentang bagaimana membangun posisi Iran yang tangguh, bukannya mengemis bekas kasihan, meminta pengakuan dan bagian peran internasional dari kekuatan-kekuatan lain. Teheran sedang menghadirkan sebuah gaya yang patut direnungkan dalam hal membangun kekuatan dan kemandirian, dan ia tidak tunduk pada kekuatan besar dunia mana pun. Iran menegaskan bahwa sebuah kutub (kekuatan) dapat dibangun berdasarkan definisi baru dari komponen dan elemen-elemennya.

Iran menyatakan bahwa tidaklah benar membatasi sistem multipolar hanya pada monopoli dimensi militer, ekonomi, dan teknologi semata. Sebaliknya, multipolarisme juga dapat didasarkan pada dimensi-dimensi lain, dan ini sangat berkaitan dengan pemahaman atas kebutuhan, preferensi, dan penderitaan yang dialami umat manusia, serta pencarian akan pihak-pihak yang mampu merespons hal-hal tersebut. Gagasan yang tepat ini akan merekonstruksi struktur kekuasaan global jika kondisinya terpenuhi.

Dalam hal ini, Republik Islam telah berhasil menghindari jebakan stagnasi dan monotonitas, atau peleburan ke dalam struktur lain. Beberapa negara membangun kebijakan dan pengaruh mereka dengan bermanuver dan mengeksploitasi kontradiksi pihak lain, sementara Iran dapat dianggap sebagai pencipta ruang dan perluasannya, bukan sekadar pengisi kekosongan atau bertaruh pada kontradiksi eksternal. Republik Islam adalah pemegang panji, bukan penyusup ataupun penyelinap di bawah panji-panji lain.

Sejak hari pertama Revolusi Islam, tujuan Iran adalah menghasilkan wacana yang khas, pertama di lingkungan regional dan kemudian di lingkungan global, yang beresonansi dengan masyarakat serta kerinduan manusia akan martabat, keadilan, dan kesetaraan.

Seruan pada perlawanan adalah sebuah aksi, bukan reaksi. Perlawanan, sebagaimana dipahami dalam bahasa zaman kita, adalah struktur pemikiran dan moral yang utuh, yang menyelaraskan kekuatan dengan kebenaran, bukan kebenaran dengan kekuatan. Ideologi Revolusi Islam berakar pada kebenaran, kehendak, tekad, kepercayaan diri, dan kepercayaan rakyat.

Baca Juga :  Etika Kekuasaan: Keteladanan Halim Nabi dan Profil Negarawan

Dengan cara inilah Iran mampu menciptakan daya tarik bagi banyak orang di dunia dan berubah menjadi sebuah revolusi yang didasarkan pada perbaikan cita-cita masa lalu. Revolusi Islam berupaya menggulingkan tirani Syah melalui kekuatan rakyat, sembari secara bersamaan menantang Amerika Serikat sebagai otak tirani tersebut.

Republik Islam menempuh jalannya di dunia yang berlogika rimba Marcheavelian tidak dengan paksaan, melainkan dengan keberanian; di dunia sentimen, Teheran konsisten dengan kebijaksanaan; di dunia arogansi, Teheran menjaga kerendahan hati; di dunia yang memaksakan perdamaian dengan kekuatan, Teheran memilih perdamaian yang didasarkan pada kebenaran dan keadilan sebagai jalan alternatif; di dunia yang merendahkan bangsa-bangsa, Teheran berupaya meningkatkan partisipasi dan kehadiran mereka; di dunia dengan motif-motif material, Teheran mendefinisikan ulang motif moral dan spiritual; dan di dunia yang serba terburu-buru, Teheran memilih kesabaran serta kemajuan yang bertahap dan berkesinambungan.

Dengan demikian, Revolusi Islam Iran membedakan dirinya dan wacananya dari Barat serta banyak gerakan dan negara regional lainnya. Untuk mencapai tujuan-tujuannya, Iran tidak berkompromi seperti beberapa arus lainnya, melainkan sejak hari pertama ia menantang, berkonfrontasi, dan dengan demikian memastikan kemurnian pengalaman dan transparansinya.

Revolusi Islam tidak dilahirkan oleh tangan “bidan” asing atau dengan bantuan Barat, melainkan sebuah revolusi yang tak tertandingi dalam menghadapi salah satu sistem dan aparat keamanan (SAVAK) yang paling garang di dunia.

Revolusi Islam Iran, yang merupakan kemenangan atas Syah—boneka Barat dan mitra rezim Zionis—pada dasarnya adalah kemenangan atas Amerika Serikat dan Zionisme. Amerika Serikat dan rezim Zionis hari ini secara terbuka berbicara tentang upaya penumbangan pengalaman Republik Islam di Iran dan sampai hari ini masih konsisten bekerja keras untuk melakukannya. Namun, sejauh ini mereka masih saja gagal dan kemungkinan besar akan gagal secara tragis, semata-mata karena pilar-pilar sistem Republik Islam Iran sangat kuat dan kokoh, sementara fondasi dan dasar tindakan musuh-musuhnya lemah.

Share Page

Close